Diduga Untuk Bibit-Rustri

299

MANYARAN – Dana bantuan sosial (Bansos) keagamaan dan pendidikan Pemprov Jateng untuk Kabupaten Kebumen tahun 2008, diduga sebagian mengalir untuk pemenangan pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2008 lalu. Dana tersebut diambil dari pemotongan dana bansos yang telah diserahkan kepada sejumlah kepala desa (Kades) setempat.

Hal itu terungkap dari keterangan saksi dalam sidang lanjutan atas perkara dugaan pemotongan dana bansos bidang keagamaan dan bidang pendidikan tahun 2008 dari Pemprov Jateng dengan terdakwa Mantan Kades Kedungjati, Kecamatan Sempor, Kebumen, Rahmat. Sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang itu menghadirkan delapan mantan kades yang telah menerima bantuan.

Adalah Kades Joho, Suratman; Kades Madureja, Wiryo Suparno; Kades Kebakalan, Mistam; Kades Kalirejo, Satimin; Kades Clapar, Sukirno; Kades Kalibening, Ritam; Kades Karangrejo, Achmad Bachrun; dan Kades Giritirto, Teguh Prasetyo.
Di hadapan majelis hakim, mereka mengaku pernah diperintah oleh terdakwa untuk membuat proposal pengajuan permohonan bansos keagamaan dan pendidikan ke Pemprov Jateng. Proposal tersebut kemudian diserahkan kepada pengurus PAC PDI Perjuangan Purbalingga, Untung Suparyono untuk selanjutnya diteruskan ke anggota DPRD Jateng.

”Waktu itu, kami dikasih tahu, berapa pun dana bansos yang turun, masing-masing kades hanya berhak menerima Rp 5 juta. Sedangkan sisanya diserahkan kepada terdakwa dan Untung,” ungkap Suratman diamini tujuh kades lainnya.

Setelah dana bansos itu cair dan masuk ke rekening masing-masing lembaga sesuai proposal, lanjut Suratman, mereka diminta mengambilnya di bank dengan menandatangani slip pengambilan kosong tanpa nominal. Setelah uang tersebut di tangan, kemudian diminta terdakwa bersama dengan Untung seluruhnya dan dikembalikan Rp 5 juta untuk masing-masing proposal.

”Lantaran mengetahui besaran dana yang turun itu antara Rp 40 juta sampai Rp 70 juta, kami kemudian tidak terima jika hanya menerima Rp 5 juta. Namun oleh terdakwa dan Untung diancam. Jika tidak mau, mereka tidak akan menerima bantuan lagi. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk kepentingan pilgub pasangan Bibit-Rustri,” bebernya di hadapan majelis hakim yang diketuai Antonius Widijantono.

Menanggapi keterangan para saksi, terdakwa membantah telah memerintahkan mereka membuat proposal. Ia mengaku hanya menawarkan yang disampaikan Untung Suparyono. Ia berdalih dana yang dikumpulkan itu kemudian dibawa oleh Untung untuk disetorkan ke Anggota DPRD Jateng. ”Sampai sekarang saya tidak tahu uang itu di mana,” akunya saat dikonfrontir oleh majelis hakim.

Untuk diketahui, sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari Kebumen), uang hasil potongan dana bansos yang terkumpul itu diserahkan kepada Riyanto yang merupakan anggota DPRD Jateng dari Fraksi PDI Perjuangan. Dari Riyanto, uang itu diserahkan kepada Bagong (sekarang buron), sopir dari Ketua Komisi D DPRD Jateng saat itu, Rukma Setya Budi.

Dalam perkara ini, Rahmat didakwa merugikan negara sebesar Rp 635 juta. Atas perbuatannya, ia dijerat dengan dakwaan yang disusun secara subsideritas. Primer melanggar ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Subsider, melanggar ketentuan Pasal 3 pada Undang-Undang yang sama,” pungkasnya. (fai/ida/ce1)