Kemas Budaya Lokal secara Modern

273
UNIK: Penampilan tari budaya yang disuguhkan dengan musik ber-genre electric dalam Culutre for Future di kampus FIB Undip, akhir pekan lalu. (Foto: Ajie Mh/Radar Semarang)
 UNIK: Penampilan tari budaya yang disuguhkan dengan musik ber-genre electric dalam Culutre for Future di kampus FIB Undip, akhir pekan lalu. (Foto: Ajie Mh/Radar Semarang)

UNIK: Penampilan tari budaya yang disuguhkan dengan musik ber-genre electric dalam Culutre for Future di kampus FIB Undip, akhir pekan lalu. (Foto: Ajie Mh/Radar Semarang)

PLEBURAN – Para mahasiswa baru (maba) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) mencoba mengangkat keanekaragaman budaya nusantara lewat gelaran Mahakarya FIB 2014, bertajuk ”Culture for Future”, Sabtu (29/11), malam.

Malam itu, di pelataran kampus FIB, puluhan orang merias diri dengan berbalut busana adat dari beberapa daerah di Indonesia. Mereka yang rata-rata maba (mahasiswa baru) didapuk mewakili kesenian adat. ”Agar bisa diterima anak muda, kami mengemas budaya-budaya daerah tersebut agar tampil lebih modern,” ungkap panitia Ali Vicko Nasution.

Sebanyak 20 penampil yang terdiri atas pertunjukan seni seperti tari, drama, puisi, band, teater, dan seni rupa yang dipentaskan dengan meriah. Tari-tarian daerah diperagakan dengan iringan musik tradisional yang diremix menjadi musik bergenre electric. Mirip lagu yang disuguhkan disc jockey (DJ) untuk menghibur clubbers di tempat hiburan malam.

Agaknya usaha untuk menghibur kawula muda menghabiskan akhir pekan itu kurang sukses. Penontonnya terbilang segelintir. Sebab, di awal pertunjukan sempat diguyur hujan deras, selain itu juga karena tempat parkir yang sangat minim.

Rendra, salah satu penonton mengaku kecewa dengan pertunjukan yang disuguhkan. Alumnus FIB undip ini merasa agak malu dengan tingkah adik-adik kelasnya yang justru menggeser kesakralan budaya. ”Memang ini kemasan hiburan. Tapi jangan keterlaluan. Masa tarian daerah Jawa yang seharusnya lemah lembut jadi jejingkraan seperti itu. Pakai musik electric, lagi. Filosofi seninya jadi kandas. Bisa-bisa malah disebut pelecehan,” ungkapnya mengkritisi.

Melihat hal ini, Rendra berharap, kesalahan mahasiswa yang mempelajari ilmu budaya ini tidak terulang lagi. ”Sebenarnya acara seperti ini bisa dikemas lebih elegan. Kalau memang ingin mencampur budaya dengan modernisasi, jangan mengubah konsep asli seninya. Mungkin unsur future-nya bisa dipakai di panggung, hiasa, lampu, atau yang lain,” pesannya. (mg16/zal/ce1)