BBM Naik, Gaji GTT Tetap

439
GURU KREATIF: Moh Miftahul Arif (kiri) bersama temannya. (DOK. PRIBADI)
GURU KREATIF: Moh Miftahul Arif (kiri) bersama temannya. (DOK. PRIBADI)
GURU KREATIF: Moh Miftahul Arif (kiri) bersama temannya. (DOK. PRIBADI)

SEPULUH tahun mengabdi sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) bukanlah waktu sebentar. Selama itu pula, gaji GTT tersebut bertahan Rp 400 ribu. Inilah perjuangan Moh Miftahul Arif, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang.

Seperti idiom Jawa; Guru, digugu lan ditiru. Selalu bersikap tulus dan ikhlas menjadi tabiat seorang berjiwa pendidik. Kata sabar barangkali lebih pas saat publik gempar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, tetapi gaji GTT bertahan Rp 400 ribu. Ia pun tak mudah mengeluh, apalagi demo protes. Barangkali ini hanya satu fakta kondisi guru yang membuat kita hanya bisa mengelus dada. Bahkan masih banyak GTT bernasib serupa seperti Arif.

”Saya sudah mengajar selama 10 tahun di MI Miftahul Akhlaqiyah,” kata pria kelahiran Bojonegoro, 20 Oktober 1981 ini saat berbincang dengan Radar Semarang di sebuah rumah beralamat Jalan Bukit Beringin Elok 10 Blok B No 533 Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, kemarin.

Arif berkenan menceritakan keluh kesahnya selama 10 tahun mengajar sebagai guru swasta. Dia tak memungkiri bahwa gaji guru swasta masih jauh di bawah standar. Dia pun menjelaskan terkait kondisi gaji GTT, terutama yang dialami sendiri. ”Gaji pokok saya Rp 400 ribu per bulan,” ujarnya.

Namun demikian, lanjutnya, jika mendapat kepercayaan jabatan seperti wali kelas, mendapat tambahan tunjangan Rp 150 ribu per bulan. Selain itu, pemasukan lain adalah tunjangan kehadiran Rp 150 ribu. ”Kebetulan saya belakangan menjabat sebagai kepala sekolah. Tunjungannya Rp 500 ribu. Jadi, total gaji saya kurang lebih Rp 1,2 juta,” bebernya.

Secara logika, katanya, jika dihitung secara matematis, katakan saja kebutuhan hidup Rp 50 ribu saja, gaji Rp 1,2 juta tidak bakal cukup. ”Itu pun belum kebutuhan membayar cicilan kredit rumah per bulan Rp 700 ribu,” katanya.

Boro-boro berbicara standar hidup layak ataupun standar Upah Minimum Kota (UMK), bisa bertahan hidup saja barangkali hal yang patut disyukuri. Namun demikian, hal itu tak lantas membuat Arif mengeluh. ”Justru karena gaji saya kecil, maka saya butuh kreatif,” ujar suami Choiriyah, 30, dan ayah dari Ahmad Thoriqziyad Basyir ini.

Arif pun harus rela terpontang-panting mengolah imajinasinya agar mampu menaklukkan mimpinya. Terbentuklah sebuah usaha jasa les privat AIO Ngaliyan yang ia dirikan secara mandiri sejak beberapa tahun lalu. ”Saat ini ada kurang lebih 30 mahasiswa-mahasiswi menjadi tentor kami. Bahkan bisa mengakomodasi sebanyak 4 guru untuk turut bekerja sama menjadi tentor. Selain di dunia mengajar, saya senang bisa berkreasi mengembangkan privat. Alhamdulillah hasilnya lumayan,” katanya.

Bahkan hingga saat ini, meski gaji pokoknya hanya Rp 400 ribu, namun ia tetap mampu menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan masih bisa membantu anggota keluarga di kampung halamannya, Desa Bulu RT 8 RW 2 Kelurahan Balen, Bojonegoro, Jatim. ”Alhamdulillah, saya juga masih bisa bantu adik yang masih mondok di Ponpes Lirboyo Jatim,” kata alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo angkatan 1999 ini.

Hasil kerja keras itu tak terlepas dari dukungan istri tercintanya yang selalu memberi dukungan dalam kondisi susah dan senang. ”Menjadi guru itu panggilan hati, kami berharap. Nasib guru swasta semakin diperhatikan,” harapnya. (abdul mughis/aro/ce1)

JS: Berharap Nasib Guru Swasta Diperhatikan