Tak Jadi PNS, Tertipu Rp 150 Juta

275

BARUSARI – Meski sudah banyak kasus penipuan dengan modus menjanjikan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), masih saja ada yang tertipu. Kali ini, korbannya, pensiunan PNS bernama Soetiman, 59, warga Rendole Indah RT 06 RW 06, Muktiharjo, Margorejo, Pati.

Dia mengaku tertipu Rp 150 juta saat hendak mendaftarkan anaknya agar menjadi PNS. Uang yang sedianya digunakan sebagai pelicin dalam perekrutan CPNS melalui jalur belakang itu, lenyap dibawa kabur calo CPNS. Yakni, seorang pria bernama Budi Satrio, warga Tampomas II No 13 Semarang, di Mapolrestabes Semarang.

”Sampai sekarang, uang Rp 150 juta tersebut tidak dikembalikan,” kata Soetiman saat melaporkan Budi Satrio di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, Jumat (21/11).

Diceritakan Soetiman, penipuan itu bermula pada pertengahan Januari 2010 silam. Dia bermaksud memasukkan anaknya menjadi PNS. ”Awalnya saya bertemu Sukemi, 50, warga Ngaglik Baru Semarang. Kemudian diperkenalkan dengan Budi. Budi mengaku bisa memasukkan anak saya menjadi PNS dengan syarat membayar sejumlah uang,” katanya.

Setelah terjadi perbincangan panjang, Budi meyakinkan Soetiman kalau melalui tangannya, jalur perekrutan CPNS bisa berjalan mulus melalui jalur belakang. Namun syaratnya, korban diminta membayar uang pelicin. ”Budi meminta uang Rp 200 juta untuk keperluan itu,” katanya.

Terlapor juga menjanjikan akan mengembalikan uang tersebut jika anak korban tidak diterima. Soetiman pun tergiur, hingga ia mengiyakan dan menyetujui omongan Budi. ”Pada tanggal 23 Januari 2010 lalu, saya ditemani Sukemi, mendatangi rumah Budi di Jalan Tampomas II Nomor 13 Semarang, untuk memberikan uang,” katanya.

Namun saat itu, korban mengaku baru sanggup membayar Rp 150 juta sebagai titipan. Terlapor pun menerima dan meminta uang kekurangannya setelah anak korban diterima sebagai PNS. ”Setelah penyerahan uang, saya diminta menunggu kabar,” katanya.
Celakanya, penantian itu harus menelan pil pahit. Karena janji itu tak kunjung ada bukti. Nama anak korban tak kunjung muncul dalam daftar perekrutan CPNS yang dimaksud. Bahkan hingga berganti-ganti tahun, janji-janji terlapor hanya menguap begitu saja. ”Saat saya meminta kejelasan, dia lagi-lagi hanya memberi janji tanpa bukti,” katanya.

Pihak korban terus mendesak, karena berdasarkan perjanjian awal, jika memang anak korban tidak diterima CPNS, terlapor harus mengembalikan uang Rp 150 juta tersebut. Tapi justru terlapor terus menghindar dan sulit dihubungi. ”Saya sudah bersabar selama tiga tahun lebih, tapi dia tidak menggubrisnya,” ujarnya.

Tak mau ambil pusing, Soetiman akhirnya melaporkan Budi ke Mapolrestabes Semarang. Dia yang merasa telah ditipu oleh terlapor, berharap kasus ini diselesaikan melalui jalur hukum. Hingga kini, laporan bernomor LP/B/1840/XI/2014/Jtg/Restabes, tersebut masih diselidiki oleh tim Reskrim Polrestabes Semarang. (mg5/ida/ce1)