Punya Ribuan, Ada yang Dibeli dari Amerika

320
HOBI DIECAST: Ari Nugroho dan sebagian koleksi diecast tertata rapi di rak yang menempel di tembok rumahnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
 HOBI DIECAST: Ari Nugroho dan sebagian koleksi diecast tertata rapi di rak yang menempel di tembok rumahnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

HOBI DIECAST: Ari Nugroho dan sebagian koleksi diecast tertata rapi di rak yang menempel di tembok rumahnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)


Sejak SMA, Ari Nugroho hobi mengoleksi miniatur mobil-mobilan atau yang sering disebut diecast. Bahkan kini jumlahnya sudah mencapai ribuan. Di antaranya koleksinya ada yang dipesan langsung dari Amerika. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Lempongsari
RUMAH Ari Nugroho di Jalan Lempongsari Timur III No 5, Gajahmungkur, Semarang nyaris dipenuhi hiasan miniatur mobil-mobilan. Koleksi diecast itu ada yang ditaruh di almari etalase, atas meja, dan ditata dengan indah di rak yang tertempel di tembok rumah. Jenisnya beragam, mulai miniatur mobil Ferrari, Ford, VW, dan sebagainya.

”Saya suka diecast sejak SMA. Saya masih ingat, dulu saya seneng banget sama mobil Ferrari jenis F 40. Poster, kaus, dan aksesori ap apun yang bergambar Ferrari saya punya. Kemudian muncul miniatur mobilnya, tanpa pikir panjang langsung saya beli,“ katanya kepada Radar Semarang, Rabu (12/11).

Pria 39 tahun yang kini menjadi Ketua Komunitas Semarang Toys Community (STOC) ini menambahkan, setelah memiliki miniatur mobil Ferrari, ia kerap melakukan hunting berbagai diecast yang lain. Tak hanya mobil jenis Ferrari, ia juga berburu minatur mobil jenis lainnya yang sangat unik dan menarik.

”Biasanya saya browsing di internet dan pergi ke toko mainan. Setiap ada diecast yang unik dan bagus, saya beli. Dulu harga satu mobil-mobilan hanya Rp 50 ribu,” kenangnya.

Kegemarannya mengoleksi diecast berlanjut hingga duduk di bangku kuliah jurusan Teknik Arsitektur Unika Soegijapranata. ”Pas kuliah saya malah gila sama minatur alat berat, waktu itu membeli diecast seperti sebuah keharusan,” ujarnya.

Meski begitu, Ari mengaku tidak memiliki budget khusus untuk membeli diecast. Ia biasa hunting sendirian, hingga bertemu dengan pencinta miniatur mobil lainnya dan membentuk sebuah komunitas.

”Saya membentuk komunitas pencinta diecast STOC tahun 2009. Tujuannya agar memudahkan dalam berburu diecast. Kami kerap hunting bareng hingga saling barter,” katanya.

Ari mengaku berburu diecast hingga ke luar kota, di antaranya Jogja, Jakarta, dan Bandung. Ia mencari koleksi yang diproduksi terbatas atau limited edition.

”Produk yang langka biasanya hanya dikeluarkan dari pabriknya kurang lebih 1.000 item saja. Jadi, harus ada pengorbanan sampai ke luar kota. Saya ingat ketika berburu miniatur mobil jenis VW T2 dengan harga Rp 1,5 juta,” kenangnya.

Menurut dia, koleksi limited edition jika dijual lagi akan berharga lebih mahal. Sehingga banyak kolektor yang rela berburu ke luar negeri untuk mendapatkan miniatur mobil yang diinginkan.

”Ada via online yang langsung dibeli dari pabrik di Amerika, tapi itu harus cepet-cepetan dengan pencinta diecast di seluruh dunia,” kata pria yang bekerja sebagai arsitek ini.

Diakui, terkadang jenis miniatur mobil tertentu bisa memiliki harga jual sangat tinggi ketika diburu pencinta diecast lainnya. ”Mahal relatif, faktornya yang membuat mobil miniatur jadi sangat mahal. Contohnya adalah tingkat kelangkaan dan produksinya yang terbatas,” tandasnya.

Ia mencontohkan, diecast jenis treasure hunt yang sangat langka di pasaran. ”Mobil model treasure hunt adalah mobil dengan roda karet. Jenis inilah yang banyak diburu para kolektor dengan tahun yang sangat lawas,” papar pria yang habis menunaikan ibadah haji yang sebagian biayanya dari penjualan koleksi diecast.

Menurutnya, perkembangan dunia diecast di Semarang cukup bagus, hal ini terlihat banyaknya anggota komunitas yang bergabung. Ari menegaskan akan terus mengoleksi diecast walaupun sampai rambut ubanan.

”Orang dewasa banyak yang menggilai dan rela merogoh kantong untuk membeli mobil-mobilan yang diimpor langsung seharga Rp 1 juta-Rp 3 juta per unit. Kalau mobil-mobilan yang dijual di minimarket dan toko mainan seharga Rp 25 ribu hingga ratusan ribu untuk kelas menengah,” katanya. (*/aro/ce1)