Akses Jalan Ditembok, Siswa Demo

411
PROTES: Siswa SD Islam Diponegoro saat demo menolak pembangunan tembok yang menutup akses jalan menuju sekolah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 PROTES: Siswa SD Islam Diponegoro saat demo menolak pembangunan tembok yang menutup akses jalan menuju sekolah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

PROTES: Siswa SD Islam Diponegoro saat demo menolak pembangunan tembok yang menutup akses jalan menuju sekolah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

PEDALANGAN – Ratusan siswa TK-SD Islam Pangeran Diponegoro, Tembalang, Semarang menggelar aksi unjuk rasa di depan sekolahnya, Senin (10/11) kemarin. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap penutupan akses keluar masuk menuju sekolah tersebut akibat dibangun pagar tembok.

Aksi demo ini dipicu oleh peristiwa yang terjadi Sabtu (8/11) sekitar pukul 10.00 lalu. Saat itu, salah seorang pekerja pembangunan pagar tembok yang tidak diketahui identitasnya berteriak dengan lantangnya supaya para guru dan murid segera keluar dari lingkungan sekolah. Pasalnya, bangunan tembok antara lingkungan sekolah dengan Masjid Pangeran Diponegoro yang berdekatan itu sudah mulai dibangun. Praktis, peristiwa itu menyebabkan aktivitas pembelajaran terganggu.

Pasca kejadian itu, para guru dan murid menggelar aksi demo di depan sekolah setempat. Mereka menggelar orasi dan membentangkan sejumlah poster di pagar sekolah. Di antaranya bertuliskan ”Kami Hanya Ingin Belajar Izinkan Kami Lewat”, ”Kami Harus Lewat Mana”, ”Kui Kan Tanah Wakaf” dan ”Ir Muji Laksono Teladani Kami untuk Menjadi Umat yang Empati”, dan ”Ir Muji Laksono Bukalah Nuranimu”.
Kepala SD Islam Pangeran Diponegoro, Dewi Widayani, mengaku tekejut dengan salah seorang pekerja bangunan yang berteriak supaya para guru dan murid secepatnya keluar dari ruangan kelas pada Sabtu lalu. Alasannya, pembangunan tembok pemisah antara sekolah dengan masjid sudah mulai dibangun.

”Guru dan anak-anak diteriaki tukang bangunan disuruh keluar, karena mau dicor. Motor kami sampai diangkat. Kami terkejut, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan,” kata Dewi kepada Radar Semarang, Senin (10/11).

Dikatakan, tanah sekolah dan Masjid Diponegoro di sebelahnya merupakan tanah wakaf. Namun secara tiba-tiba ada pihak yang membangun tembok yang menjadi pembatas antara sekolah dan masjid. Diduga, pembangunan tembok itu atas perintah Ir Muji Laksono, salah satu pengelola masjid. Padahal titik lokasi yang akan dibangun tembok pembatas itu merupakan satu-satunya akses keluar masuk sekolah.

”Tanah ini memang bukan hak kami, bukan tanah sekolah. Kalau mau ditembok tinggi tidak masalah. Tapi, kami minta agar ada akses jalan ke sekolah maupun masjid, lebar satu meter saja tidak apa-apa. Sebab, tidak ada akses lain. Saya kasihan anak-anak kalau harus melewati sungai di samping sekolah,” tegasnya.
Kepala TK Pangeran Diponegoro, Sarikem, mengatakan hal sama. Setelah ditutup tembok pagar, pihak sekolah akhirnya mambuat jalan alternatif melewati sungai di samping sekolah supaya aktivitas pembelajaran harus berjalan. Hanya saja, pihaknya khawatir dengan adanya penutupan jalan ini, keselamatan murid terganggu.

”Meski pedagang kaki lima di seberang sungai rela bergeser untuk akses jalan anak-anak sekolah, proses pembelajaran dan keselamatan anak-anak sudah terganggu. Kalau tembok jadi dan tidak ada akses, anak-anak kalau salat Duha dan Duhur harus memutar lewat jalan raya,” ujarnya.

Demo kemarin tidak hanya dilakukan siswa dan guru, namun para orang tua siswa juga ikut terlibat. Para orang tua siswa mendukung pihak sekolah dan memohon kepada pengelola masjid Diponegoro mempunyai hati nurani. ”Kami juga mendukung pihak sekolah, masak pihak masjid tega menutup akses masuk sekolah siswa,” seru Teguh Yuwono, salah satu orang tua siswa.

Orang tua siswa lainnya, Wulan, menyampaikan supaya rencana pembangunan tembok pembatas tersebut dibatalkan, meski pihak sekolah telah membuat akses jalan masuk lain. ”Kasihan anak-anak yang masih kecil harus melewati jalan di atas sungai. Selain itu, akses di atas sungai itu juga berdekatan dengan jalan raya,” katanya.

Aksi demo kemarin dijaga aparat Satpol PP Kota Semarang. Petugas lantas memasang pita kuning pada proyek pembangunan tembok tersebut. Hal itu dilakukan untuk meredam konflik. ”Belum tahu apakah (pembangunan tembok ini) ada izin atau belum, kami pasang pita kuning untuk meredam,” ujar Kabid Trantibunmas Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir. (mg9/aro/ce1)