Tenaga Kerja Informal Menurun

131
SANTUNAN : Kepala BPJS Ketenagakerjaan Semarang 1, Budiman Siagian menyerahkan santunan kematian kepada ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan Informal. (ENY/RADAR SEMARANG)
SANTUNAN : Kepala BPJS Ketenagakerjaan Semarang 1, Budiman Siagian menyerahkan santunan kematian kepada ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan Informal. (ENY/RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Transformasi PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak Januari 2014 lalu, ternyata membawa dampak berkurangnya jumlah tenaga kerja informal di Kota Semarang. Lantaran banyak masyarakat yang tidak melanjutkan kepesertaannya.

Budiman Siagian Kepala BPJS Ketenagakerjaan Semarang 1 mengatakan, di tahun 2013 lalu peserta informal PT Jamsostek mencapai 13 ribuan, namun hingga November 2014 ini tinggal 9 ribuan.

“Sebenarnya cukup disayangkan, mengingat masih banyak manfaat BPJS Ketenagakerjaan yang tidak diketahui oleh peserta informal. Yakni, mereka yang mendaftar secara individu tidak melalui perusahaan, biasanya pekerja mandiri seperti pedagang kaki lima, tukang ojek dan lainnya,” kata Budiman.

Sebagaimana diketahui, sesungguhnya manfaat BPJS Ketenagakerjaan saat ini ada 3 buah yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT) dan yang sedang digodok adalah Jaminan Pensiun. ”Untuk Jaminan Pensiun, kami usahakan bisa terealisasikan mulai 1 Juli 2015 mendatang,” ungkap Budiman.

Sedangkan khusus peserta bukan Penerima Upah (Informal) Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja (TKLHK) dapat memilih minimal 2 (dua) program yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JK) yang manfaatnya sama dengan peserta penerima upah (Formal). Jika dihitung, iuran peserta untuk program tersebut sesuai UMK Kota Semarang, maka kewajiban iuran perbulan setara dengan harga sebungkus rokok atau satu porsi mi ayam dengan perhitungan : JKK = 1 persen x 1.400.000 = 14.000, JK = 0.3 persen x 1.400.000 = 4.200, jumlah iuran = 18.200. Dengan syarat usia tidak lebih dari 55 tahun.

Apabila terjadi kecelakaan kerja, biaya pengobatan/perawatan diganti maximum Rp 20 juta dan jika meninggal dunia akibat kecelakaan kerja, ahli waris mendapatkan 48 x gaji yang didaftarkan + uang kubur Rp 2 juta dan santunan berkala 24 bulan x Rp 200 ribu atau dibayarkan sekaligus Rp 4,8 juta. ”Seperti yang dialami oleh Winarni, ahli waris dari almarhum Widiyanto yang beralamatkan di Jalan Mintojiwo Timur RT 02 RW 07, sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Semarang I program Bukan Penerima Upah (sektor Informal) TKLHK. Beliau menerima santunan kematian sebesar Rp 21 juta,” jelas Budiman di sela acara apel pencanangan cabut paku di pohon di Musem Ronggowarsito. (eny/ida)