TK Perlu Guru BP

221

LEMPONGSARI – Peran guru Bimbingan dan Penyuluhan (PB) pada institusi pendidikan memang sangat penting, mengingat saat kasus kekerasan antar anak didik belakangan ini semakin marak. Sehingga seorang anak didik butuh bimbingan demi menciptakan karakter anak yang baik. Guru BP harusnya mulai ditempatkan di tingkat taman kanak-kanak (TK).

Hal itu diungkapkan pemerhati dunia anak, Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto angkat bicara. Saat dihubungi Radar Semarang, Jumat (24/10). Dia berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengambil langkah terobosan, seiring maraknya kasus kekerasan yang dilakukan antar siswa.

Salah satu langkah terobosan, kata Seto, Kemendikbud sudah saatnya menempatkan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) di sekolah-sekolah dasar. Bahkan bila perlu hingga ke tingkat taman kanak-kanak. Karena selama ini guru BP hanya ada di tingkat SMP dan SMA. ”Nah selain itu, paradigmanya juga harus diubah. Guru BP tidak lagi seperti selama ini yang berfungsi ketika anak bermasalah,” katanya.

Menurutnya, permasalahan pada diri anak yang sangat kompleks jika tidak ditangani sejak dini dan secara khusus maka akan sangat berdampak bahaya kelak. Maraknya kasus kekerasan antar pelajar mulai dari bullying hingga tawuran merupakan bentuk minimnya bimbingan sejak dini di sekolah. ”Peran guru BP ke depan harus pada pencegahan. Misalnya, guru BP berperan memantau dan mengikuti perkembangan mental anak didik.

Dibuat report (laporan)-nya. Jadi perkembangan masing-masing anak bisa dilihat. Di tingkat SD selama ini kan belum ada guru BP, makanya Kemendikbud harus fasilitasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Semarang, Ellysa Aditya Suryawati, menilai kehadiran guru BP di tingkat sekolah TK maupun SD belum terlalu diperlukan.

Menurutnya, yang lebih perlu diperhatikan yaitu keterbatasan ruang ekspresi pada siswa SD. Pasalnya, selama ini permasalahan anak yang kompleks justru terjadi karena banyaknya tekanan dari keluarga dan tugas-tugas yang diperoleh dari sekolah. ”Ruang ekspresi untuk siswa di tingkat TK masih cukup, namun untuk anak SD ruang ekspresi sangatlah minim, nah itulah yang membuat siswa mudah melakukan tindak kekerasan,” kata Ellysa.

Dia menjelaskan layanan konsultasi yang ada di TK se-Kota Semarang kini masih digalakkan, sehingga kehadiran guru BP kurang begitu diperlukan. (ewb/zal/ce1)