Perusahaan Ibarat Jari Tangan, Perlu Kekompakan

235

LEMPONGSARI – Setelah puasa Ramadan selama sebulan, segenap keluarga besar dan mitra kerja Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/8) kemarin, menggelar acara halalbihalal di aula lantai I kantor Jalan Veteran 55 Semarang. Meski terbilang sederhana, acara yang mengambil tema ”Sucikan hati satukan langkah menuju kemajuan bersama” tersebut berlangsung dengan lancar dan maksud yang dinginkan tercapai. Yakni, saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Acara ini dihadiri Direktur Jawa Pos Radar Semarang Abdul Aziz, General Manager Radar Semarang Adi Riyadi, General Manager dan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Kedu Iskandar, Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto, seluruh karyawan Radar Semarang dan Radar Kedu, serta para agen koran Jawa Pos Radar Semarang.
Setelah mendengar lantunan ayat suci Alquran dan salawat nabi yang dibacakan Ustad Taslim, dilanjutkan sambutan dari Direktur Jawa Pos Radar Semarang Abdul Aziz.
Aziz mengatakan, halalbihalal merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di perusahaannya selepas libur Lebaran. Selain sebagai ajang saling memaafkan antarkaryawan dan mitra kerja Jawa Pos Radar Semarang, juga untuk mempererat tali silaturahmi.
”Dulu sebelum ada Radar-Radar (Jawa Pos Group), kegiatan seperti ini dilakukan dengan mengundang seluruh agen koran dan mitra bisnis Jawa Pos. Intinya adalah untuk saling mendekatkan. Meskipun jauh di mata, tetapi dekat di hati,” ungkapnya.
Sementara itu, tausiyah dalam acara halalbihalal kemarin disampaikan oleh KH Abdullah Syukron. Dengan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, ia mampu menyentuh hati para karyawan yang hadir tanpa lupa diselingi dengan humor-humor yang segar.
Dalam pesannya, ustad kocak ini mengingatkan tentang pentingnya kerukunan, kekompakan dan kerja sama. Ia menjelaskan, bahwa sebuah perusahaan itu ibarat dua tangan yang satu sama lain saling membantu. ”Jika salah satu ada yang gatal, yang lainnya dapat menggaruk. Begitu juga dengan perusahaan ini, ketika ada yang sakit bisa ditolong yang lain,” katanya.
Dalam tangan, imbuh Syukron, juga terdapat lima jari yang tidak bisa dipisahkan. Jari jempol ibarat sebagai pemimpin yang mengarahkan semua anggota untuk bekerja lebih baik. Begitu juga dengan jari-jari lainnya sebagai anggota yang ikut mendukung untuk melakukan sebuah tujuan. ”Bayangkan ketika hendak makan, hanya dilakukan satu jari saja. Tentu tidak akan bisa,” imbuh pria asal Purwodadi ini.
Syukron juga sempat menyinggung tentang pentingnya budaya tepat waktu. Pernyataan tersebut diungkapkan lantaran acara yang sejatinya dimulai pukul 09.00 tersebut ternyata molor, dan baru dimulai pukul 11.00. ”Saya berharap lain kali lebih tepat waktu. Karena setelah ini saya harus pindah ke tempat lain. Saat ini mubalig memang lagi laris,” katanya sambil tertawa.
Acara diakhiri saling berjabat tangan antar semua karyawan dan mitra usaha. Setelah itu, semua yang hadir menikmati hidangan sambil dihibur aksi organ tunggal Puspita Nada. (fai/aro/ce1)