Wujudkan Mimpi, Solusi agar Anak Giat Belajar

138

boks2

Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (FH-Undip) membuat media pembelajaran kreatif yang sangat menyenangkan. Namanya Roket Peraih Mimpi atau Rok Paimpi. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

KETIGA mahasiswa kreatif tersebut adalah Sumyati (2012), Qiroatul Anis Ummami (2012), dan Alifah Aminatuz Zulfa (2013). Mereka belum lama ini mengajak siswa-siswi kelas 4 SD Al-Islam 3 Gebang Surakarta menggapai mimpi mereka melalui media Roket Peraih Mimpi atau Rok Paimpi. Ketiganya mengenalkan Rok Paimpi lantaran khawatir dengan semakin mewabahnya game-game internet yang dapat memberikan dampak negatif kepada generasi mendatang.
Ketua tim Sumyati kepada Radar Semarang, Jumat (18/7), mengatakan, saat ini anak-anak cenderung lebih menyukai sesuatu yang instan, seperti membeli mainan dan bermain game online. Bahkan ada beberapa anak yang bisa menghabiskan waktu di depan layar komputer seharian.
”Hal itu tentu menyebabkan banyak dampak negatif, di antaranya antisosial (autis), malas belajar, tidak peduli terhadap lingkungan, dan tidak memikirkan masa depan dan cita-cita. Untuk itu, kami berusaha memberikan solusi dengan sebuah program pengabdian masyarakat Rok Paimpi,” ujarnya
Menurut Sumyati, program ini bertujuan agar meningkatkan kreativitas anak melalui media roket air.
Pada batang tubuh roket air ini dituliskan mimpi-mimpi mereka. Filosofisnya, mimpi-mimpi mereka akan ikut meluncur bersama roket tersebut, meluncur setinggi langit.
”Media roket air ini kami pilih, karena roket air masih dirasa asing bagi beberapa anak, sehingga anak tertarik untuk mencobanya. Roket juga identik dengan kecanggihan, sehingga sesuai dengan era modern saat ini,” tambah Sumyati.
Ia berharap, dengan adanya program ini, anak-anak Indonesia bisa lebih kreatif dan produktif, sehingga sumber daya alam bumi pertiwi di masa depan dapat dikelola oleh anak bangsa sendiri, bukan justru dikuasai asing.
”Selama melaksanakan program ini, kami menemukan dalam diri anak-anak adalah potensi kreativitas yang luar biasa, sangat disayangkan apabila potensi itu terbuang sia-sia. Merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk memberikan pupuk-pupuk yang berkualitas untuk menumbuhkan bibit-bibit penerus bangsa,” katanya.
Salah satu anggota tim, Qiroatul Anis Ummami, mengatakan, pelaksanaan program ini diikuti oleh 75 siswa kelas 4 SD Al-Islam 3 Gebang Surakarta. ”Mereka sangat antusias mengikuti semua rangkaian program. Kami di sini juga mengajarkan cara merancang roket air tersebut dari awal sampai akhir. Dan program ini akan ada keberlanjutannya berupa ekstrakurikuler roket air yang sedang kami susun modulnya,” ujarnya.
Menurut Qiroatul, pembuatan Rok Paimpi tersebut tidak menghabiskan biaya yang mahal, namun ia tidak menyebutkan besarnya biaya secara pasti.
Dikatakan, Rok Paimpi merupakan sarana stimulan bagi siswa agar lebih dapat semangat dalam mengikuti setiap pelajaran-pelajaran di kelasnya. ”Kebanyakan anak-anak apalagi seusia SD, jika dalam proses KBM hanya diberikan materi dan hanya di kelas saja, anak cenderung bosan, dan bertingkah seenaknya,” ujarnya.
Pembuatan Rok Paimpi tersebut selain hanya berbahan dasar kertas, dan botol bekas air mineral, dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. ”Metode ini dapat dilakukan oleh guru-guru, selain murah, guru-guru dapat mengimprovisasinya menjadi bentuk lain. Untuk mencerdaskan bangsa itu tak harus mahal kok,” ujar Qiroatul.
Ia bersama teman satu timnya meyakini, pembelajaran yang dibuat menyenangkan dapat membuat siswa menjadi betah dan tidak menutup kemungkinan, semua yang diberikan oleh guru dapat terserap dengan baik. (*/aro/ce1)