Berhasil Memediasi, Rujuk Lagi, Diundang Syukuran

280

Mengenal Women Crisis Centre (WCC) Cahaya Melati Kota Magelang

Kasus kekerasan yang menimpa perempuan sudah menjadi fenomena di tengah masyarakat. Tak hanya perempuan, anak-anak pun seringkali menjadi korban. Tak heran bilan Women Crisis Center (WCC) Cahaya Melati Kota Magelang kerap menjadi jujukan para korban kekerasan.

Banyak hal dilakukan untuk melampiaskan emosi yang berujung masalah baru. Tak hanya perempuan saja yang menjadi sasaran kekerasan, anak-anak juga sering mendapatkan perlakuan tak semestinya dari lingkungan.
Hal itu yang menjadi keprihatinan WCC Cahaya Melati Kota Magelang. Banyak kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang ditanganinya. Bahkan dari tahun ke tahun, KDRT meningkat. Namun kasus ini seperti fenomena gunung es, hanya sedikit yang terlihat di permukaan, sementara yang tidak diungkap sangat banyak.
Masih banyak orang beranggapan pula bahwa kasus yang dialami di dalam rumah tangga adalah ranah intern mereka tidak perlu disampaikan ke publik. Dikatakan sekretaris WCC Cahay Melati Kota Magelang, Sulistyorini, sepanjang tahun 2013 setidaknya ada 51 kasus yang di laporkan ke pihaknya. “Semua kasus sudah tertangani dengan baik, dan sudah ada hasilnya,” katanya.
Rini juga menuturkan, sampai bulan Juli 2014 ada 12 kasus yang di laporkan. Sebelas kasus perempuan dan 1 kasus yang menimpa anak. “Dari kasus yang dilaporkan satu di antaranya adalah kasus pemerkosaan yang menimpa wanita keterbelakangan mental. Kasus itu sudah kami tangani dan terselesaikan dengan baik. Hasilnya pelaku bersedia menikahi korban, Terakhir laporan yang masuk ada kasus sodomi anak usia dini, ini masih dalam proses,” terangnya.
Ia menuturkan, segala kasus yang dilaporkan berusaha ditangani sesuai dengan proses. Misal kasus KDRT maka akan ada proses pelaporan, kroscek keterangan pelapor dengan yang dilaporkan, kemudian dilakukan proses mediasi.
“Jika proses mediasi tidak berhasil, barulah diproses secara hukum. Kami berikan dampingan secara psikologis dan fisik, serta akan memperjuangkan hak-hak perempuan yang harus didapatkan,” imbuhnya.
Dari sekian laporan yang masuk, yang tersulit ketika menangani kasus kekerasan seksual pada anak usia dini. Perlu hati-hati dalam bertindak, karena jika salah langkah maka akan menjadi bumerang bagi pihaknya.
“Anak kecil masih berubah-ubah jika memberikan keterangan, sehingga kami memang harus hati-hati betul dalam menangani kasus seperti itu,” terangnya.
Rini mengatakan, tak hanya kaum hawa saja yang datang ke kantor WCC untuk meminta bantuan. Kaum adam juga ada yang melaporkan permasalahan rumah tangganya.
“Pernah ada seorang laki-laki datang untuk meminta bantuan, saat itu posisi dia bekerja di luar kota dan diceraikan secara sepihak oleh isterinya. Namun kesulitannya adalah saat menemui anaknya. Sehingga kami bantu mempertemukan keduanya. Ada proses mediasi hingga berhasil rujuk dan membeli rumah di daerah sini. Kami semua diundang syukuran rumah barunya. Sebagai wujud terima kasih mereka kepada kami yang telah membantu menyelamatkan rumah tangganya,” Rini memceritakan pengalaman yang mengharukan itu.
WCC selalu gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Agar masyarakat paham ke mana harus melangkah jika mengalami masalah. “Masyarakat tidak perlu takut datang ke kantor kami, tidak ada pungutan biaya apapun. Kami senang bisa membantu sesama untuk menemukan jalan yang terbaik,” pungkasnya. (*/lis).