Sekolah Wajib Ajarkan Bahasa Jawa

414

SEKARAN – Adanya sekolah yang belum mewajibkan muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa, banyak menuai kecaman dari banyak pihak. Satuan pendidikan mulai jenjang SD, SMP, SMA/sederajat diingatkan kembali pada kewajibannya untuk mengajarkan mulok Bahasa Jawa. Sekolah yang tidak memberi alokasi waktu minimal 2 jam tiap minggu, berarti telah melanggar Perda Provinsi Jateng Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa yang diikuti terbitnya Pergub Nomor 57 Tahun 2013.
”Di daerah, masih banyak sekolah yang tidak menaatinya. Ada yang hanya mengalokasikan 1 jam per minggu, ada yang menyatu dengan pelajaran lain. Terkait hal ini, Dinas Pendidikan akan segera menindaklanjuti sekolah itu karena aturannya sudah jelas tercantum dalam Perda dan Pergub,” kata Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Yusro Edy Nugroho, di hadapan Ketua dan Sekretaris Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMA se-Jawa Tengah, di kampus Unnes Sekaran, Selasa (1/7).
Dalam acara Diskusi Implementasi Kurikulum 2013 Mulok Bahasa Jawa itu, Yusro menyatakan, implementasi mulok Bahasa Jawa dalam Kurikulum 2013 semakin mendesak diselenggarakan. Menurutnya, para guru harusnya tak perlu ragu mengajarkan Bahasa Jawa karena dua minggu lagi sekolah memasuki tahun ajaran baru.
Kurikulum 2013 Bahasa Jawa, lanjut Yusro, baru disahkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada 4 Juni 2014. ”Oleh sebab itu, Unnes berupaya untuk menjembatani kesenjangan informasi tentang Kurikulum 2013 mulok Bahasa Jawa antara Dinas Pendidikan dengan para guru di sekolah,” ujarnya.
Mulok Bahasa Jawa dalam Kurikulum 2013 berbasis pada kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) dengan penekanan pada penyederhanaan materi. Artinya, materi yang diajarkan tidak sebanyak kurikulum sebelumnya namun lebih mendalam.
Misalnya, materi crita cekak bisa diajarkan sampai 3 pertemuan di kelas SMA. Dengan pendalaman itu, peserta didik diharapkan bisa mencapai penguasaan aspek pengetahuan.
”Analoginya, pada jenjang SD meliputi penguatan sikap, SMP penguatan keterampilan, dan SMA pada aspek pengetahuan siswa,” katanya.
Pembelajaran Bahasa Jawa juga masih terkendala pada terbatasnya jumlah guru. ”Bupati dan wali kota harus paham mengenai permasalahan dan pentingnya pembelajaran Bahasa Jawa kepada generasi muda di era sekarang ini,” kata Yusro.
Ketua MGMP Bahasa Jawa Kota Semarang, Yuyun Dian mengatakan, masuknya mata pelajaran Bahasa Jawa ke dalam kurikulum 2013 menunjukkan Bahasa Jawa tidak lagi dipandang menjadi mapel pelengkap dari mapel-mapel lain. ”Setidaknya Bahasa Jawa sudah memiliki ruang yang jelas, yang dulunya mengambang dan tidak jelas juntrungnya,” ujar guru mapel Bahasa Jawa di SMA N 5 Semarang ini. (mg1/ton/ce1)