Asmara Subuh, Dikeluhkan Pengunjung

294

KAJEN-Banyaknya pengunjung objek wisata Pantai Wonokerto di Dukuh Kisik, Desa Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, justru dikeluhkan pengunjung. Pasalnya, pantai yang lokasinya jauh dari permukiman warga ini, dikunjungi pasangan muda-mudi yang bukan muhrimnya saat pagi hari di bulan Ramadan.
Yuanita,17, warga Desa Tegalontar, Kecamatan Sragi yang datang bersama pacarnya mengaku kerap datang ke Pantai Wonokerto, meski lokasinya jauh dan sulit. Ini karena pemandangannya bagus dan tidak harus membayar. ”Yang jelas, pantainya bersih, lokasinya bagus untuk menunggu waktu hingga siang hari,” tutur siswa SMA swasta di Kecamatan Wiradesa.
Hal senada dibenarkan oleh Marni, 32, warga Desa Sumurjomblang Bogo, Kecamatan Bojong, yang datang bersama keluarganya. Namun dia merasa risih dan malu, melihat banyak pasangan muda-mudi yang duduk di motor berduaan di bulan puasa. Kendati alasannya, untuk melihat matahari terbit dan menunggu siang di tepi pantai.
“Saya malu sama anak-anak. Karena banyak pasangan yang memadu kasih di bulan suci Ramadan. Ini kan tidak baik bagi pendidikan anak-anak. Harusnya warga sekitar ada yang jaga, agar tidak jadi tempat mesum,” kata Marni.
Kondisi tersebut diakui perangkat Desa/Kecamatan Wonokerto, Rohman, Senin (30/6) siang kemarin. Menurutnya, banyaknya pasangan muda yang datang ke objek wisata Pantai Wonokerto pada bulan Ramadan, justru menguatkan image negatif.
“Selama ini, orang selalu menganggap, kalau mau melihat pasangan asmara subuh, ya ke Pantai Wonokerto. Itu kan pandangan yang kurang bagus,” tandas Rohman keberatan.
Dikatakan Rohman, meski jalan menuju lokasi pantai rusak parah dan tidak ada fasilitas umum, namun tak menyurutkan niat pasangan muda-mudi untuk selalu datang menjelang matahari terbit, khususnya pada bulan Ramadhan. Namun, untuk mencegah perbuatan yang tidak diinginkan, pihaknya sudah menempatkan warga sekitar untuk mengawasi. ”Kalau kami melihat pasangan asmara subuh sudah berbuat di luar batas, akan kami tegur dan kami usir, agar pulang,” tegas Rohman.
Sedangkan pengurus MUI, Kabupaten Pekalongan, KH Muslikhin, meminta seluruh masyarakat menghargai bulan suci Ramadan, jangan menodai kesuciannya dengan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Termasuk keberadaan asmara subuh anak-anak muda tersebut, yang jelas bukan muhrimnya.
”Pemkab Pekalongan harusnya tegas, agar mereka tidak melakukan hal-hal yang lebih jauh lagi. Terlebih saat ini bulan suci Ramadan. Asmara subuh jelas sangat dilarang dan tidak boleh dilakukan,” tegasnya. (thd/ida)