Langgar Jam Buka Terancam Disegel

196

BALAI KOTA – Seluruh tempat hiburan yang ada di Kota Semarang diminta menaati aturan jam operasional selama bulan puasa. Termasuk harus tutup dua hari jelang awal puasa, yakni tanggal 28-29 Juni. Sanksi penyegelan dan pembekuan izin dipersiapkan bagi pelaku usaha hiburan yang nekat beroperasi pada jam larangan.
”Nanti awal puasa mulai tanggal 28 sampai 29 Juni, semua tempat hiburan di Kota Semarang, meliputi diskotik, night kelab, bar, pub, karaoke, panti pijat, dan usaha hiburan lainnya, harus tutup. Hal itu untuk menghormati datangnya bulan puasa,” tegas Kabid Pembinaan Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Giarsito Sapto Putratmo, kepada Radar Semarang, kemarin (23/6).
Sementara selama bulan puasa, lanjut Sapto, tempat hiburan boleh beroperasi pada jam-jam tertentu. Sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan Pemkot Semarang, melalui Surat Edaran (SE) Wali Kota Semarang Nomor 556/854 tentang pengaturan jam operasional tempat hiburan di bulan Ramadan dan Idul Fitri 2014.
”Jam operasionalnya bervariasi, seperti panti pijat refleksi dengan kategori tempat usahanya tidak ada sekat, bilik, atau room, boleh buka pada siang hari pukul 10.00-22.00. Tapi, kalau tempat pijat yang memiliki sekat atau bilik perorangan, baru boleh beroperasi setelah magrib pukul 18.00 hingga 22.00,” terangnya.
Hal tersebut juga berlaku bagi pelaku usaha karaoke. Untuk tempat karaoke yang tidak menyediakan pemandu (PK) atau yang biasa disebut karaoke keluarga, maka boleh buka mulai pukul 12.00 hingga pukul 16.00.
”Setelah magrib atau setelah pukul 18.00 boleh buka lagi sampai pukul 22.00. Tapi, untuk karaoke yang menyediakan pemandu baru boleh beroperasi mulai pukul 21.00 sampai 01.00,” terangnya. ”Jam tersebut juga berlaku untuk diskotek, kelab malam, bar, dan pub,” imbuhnya.
Sedangkan tempat biliar hanya boleh beroperasi dari pukul 10.00 hingga 24.00. ”Wali kota sudah membuat SE tersebut yang tentunya wajib dipatuhi semua pengalola tempat hiburan agar tercipta suasana kondusif saat umat Islam menjalankan ibadah puasa,” terangnya.
Disbudpar akan melakukan pantauan dengan menggandeng Satpol PP-Linmas selaku penegak perda, kepolisian, dan instansi terkait lainnya. Jika dalam pantauan mendapati tempat usaha hiburan yang buka di luar ketentuan, maka pihaknya merekomendasikan satpol PP untuk menutup tempat hiburan tersebut.
”Kita akan melakukan pantauan di lapangan bersama tim gabungan. Kalau memang ditemukan tempat usaha yang melanggar, kita minta satpol PP menutup tempat tersebut, termasuk sanksi pembekuan izin usaha. Kalau tahun kemarin memang sempat ada panti pijat yang melanggar karena salah persepsi. Kami minta aturan ini dipahami semua pelaku usaha, jangan sampai ada yang melanggar,” tegasnya.
Selain itu, dalam SE wali kota juga mengatur mengenai aturan operasional tempat hiburan selama Idul Fitri. Tempat usaha tersebut diwajibkan memberikan libur kepada pegawainya mulai 26 hingga 31 Juli.
”Tempat hiburan ini juga kami harapkan memperbanyak aktivitas-aktivitas kerohanian dan tidak memutar musik jenis keras seperti house music dan sementara waktu tidak menyediakan minuman berakohol,” tegasnya.
Terpisah, Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP-Linmas Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, menyatakan, pihaknya akan mengintensifkan razia tempat-tempat hiburan malam selama bulan puasa nanti. ”Kita tidak akan main-main, karena bulan puasa harus dihormati semua masyarakat baik yang sedang menjalankan maupun yang tidak. Kalau memang ada tempat hiburan yang melanggar, kita akan langsung tutup,” tegas Aniceto.

SK dan GBL Tutup

Sementara itu, dua lokalisasi yang ada di Kota Semarang, yakni Lokalisasi Sunan Kuning (SK) dan Lokalisasi Gambilangu (GBL) akan tutup selama bulan Ramadan. Penutupan ini dilakukan oleh pengurus resos setempat agar kegiatan yang ada di lokalisasi tidak mengganggu jalannya ibadah puasa yang dilakukan oleh umat Islam.
Ketua Resosialisasi Argorejo atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kuning, Suwandi Eko Putranto, mengatakan, selama puasa, kegiatan di lokalisasi yang dikelola akan diliburkan total. Menurutnya, aturan itu sudah disepakati oleh pemilik wisma karoke yang ada di Lokalisasi SK.
”Jumlah PSK yang ada di sini sekitar 560 orang yang berasal dari Kendal, Kebumen, dan Temanggung, sementara jumlah wisma karoke sebanyak 120-an, pemilik wisma dan para PSK sudah sepakat untuk tidak melakukan kegiatan selama puasa,” katanya kepada Radar Semarang.
Lebih lanjut dikatakan Suwandi, setiap satu minggu sekali para PSK diwajibkan menabung minimal Rp 50 ribu per orang. Uang tabungan ditabungkan ke pengurus resos kemudian diberikan kepada PSK ketika lokalisasi ditutup selama Ramadan. ”Besarannya variatif, minimal Rp 50 ribu setiap minggu. Uang yang dikumpulkan para PSK pun terbilang sangat banyak sehingga cukup untuk bekal selama puasa dan Lebaran,” paparnya.
Suwandi menegaskan, akan menindak tegas wisma karoke dan PSK yang nekat beroperasi selama bulan puasa dengan cara menutup secara paksa dan memulangkan PSK secara paksa. ”Kalau ada yang nekat ya akan kami tindak. Biasanya, mereka patuh kok. Kalau buka kembali biasanya setelah Lebaran atau H + 7, namun belum beroperasi semuanya,” katanya.
Sugito, pengurus Resosialisasi Gambilangu (GBL) juga memberlakukan hal yang sama. Menurutnya, lokalisasi di perbatasan Kota Semarang dan Kendal juga akan tutup selama bulan puasa. Sebanyak 425 PSK yang ada di lokalisasi tersebut akan pulang kampung. ”Sama dengan Sunan Kuning, lokalisasi Gambilangu yang masuk wilayah Semarang dan Kendal juga akan ditutup selama puasa. Sebanyak 165 PSK yang ada di GBL Semarang, dan 260 yang ada di GBL Kendal akan pulang kampung,” jelasnya.
Bunga, 23, salah satu PSK Sunan Kuning asal Sukorejo, Kendal mengaku tidak keberatan dengan aturan penutupan lokalisasi selama Ramadan. ”Saya tidak keberatan, soalnya memang sudah aturan, uang tabungan saya rasa cukup untuk hidup selama satu bulan,” akunya. (zal/den/aro/ce1)