MUI : Cegah Penularan HIV/AIDS, Sebaiknya Ditutup

110

KETUA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Daroji saat dimintai pendapatnya tentang masa depan lokalisasi di Jawa Tengah dan Semarang, menyatakan penutupan merupakan suatu hal yang diperlukan. Bukan hanya untuk mengatasi hal yang mungkarat (sesuatu yang dilarang, red), tetapi juga mencegah sumber penularan HIV/AIDS.
“Bayangkan saja ketika ada suami yang pulang dari lokalisasi, kemudian mendatangi istrinya yang tidak tahu apa-apa. Istri tersebut pasti akan kena (virus). Belum lagi ketika menular ke anak-anaknya. Tentu akan merusak keluarga,” ungkapnya.
Namun, dalam upaya penutupan tersebut harus didasarkan kesadaran bahwa para penghuni adalah makhluk hidup yang butuh makan dan punya keluarga. Oleh karena itu, penutupan tidak bisa dilakukan secara mendadak. Harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Wali Kota Surabaya.
“Perlu ada perencanaan matang dari pemerintah. Paling tidak, dalam waktu tiga tahun melakukan sosialisasi, diskusi, dan lokakarya hingga kemudian mengambil langkah,” ujarnya.
Dalam tahap perencanaan itu, imbuh Daroji, pemerintah harus benar-benar memberi pembekalan dan keterampilan kepada mereka sehingga ketika dilepas keluar sudah ada pegangan hidup yang terarah dan bermanfaat. “Selain diberi pembinaan mental seperti bertobat, juga harus dipersiapkan kehidupannya dalam hal ekonomi,” imbuhnya.
Daroji menambahkan, sebenarnya upaya ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tetapi juga masyarakat khususnya umat beragama. Melalui lembaga amal, zakat, infaq, dan shadaqah, masyarakat juga harus ikut memberikan bantuan.
”Kami sadar, upaya tersebut tidak bisa dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Namun hal tersebut, bukan tidak mungkin. Lokalisasi Dolly saja yang notabene terbesar se-Asia Tenggara bisa ditutup, apalagi di Semarang,” ungkapnya.
Terkait upaya yang dilakukan oleh Wali Kota Surabaya tersebut, Daroji menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, upaya itu perlu ditiru tetapi dengan perencanaan matang. “Melalui pendekatan yang baik akan menjadi kunci keberhasilan. Intinya manusia tetap dimanusiakan,” pungkasnya. (fai/ida)