Bupati Larang Petani Jual Sawah

252

BATANG-Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, melarang petani di wilayahnya menjual sawah miliknya. Menyusul banyaknya sawah yang beralihfungsi menjadi lahan perumahan dalam satu tahun terakhir. Akibatnya, luas lahan sawah berkurang drastis.
“Siapapun yang punya tanah, khususnya petani, tolong diuri–uri. Anggap tanah sebagai piring makannya, jangan dijual dan dijadikan permukiman baru,” kata Bupati Yoyok, di Kantor Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K), Kecamatan Blado, Senin (16/6) siang kemarin.
Karena itulah, untuk merangsang petani agar tidak menjual sawahnya, Bupati Yoyok melakukan terobosan baru dan meningkatkan kesejahteraan kehidupan petani. Yakni, menjalin kerjasama antara Perusahaan Daerah (Perusda) Aneka Usaha Pemkab Batang dengan PT Indowooyang Korea yang beralamatkan di Cirebon, mengolah hasil budi daya ubi jalar bernilai ekspor.
“Kami berharap, dari kerjasama tersebut petani dapat peningkatan kesejahteraan. Petani akan dituntun menanami Ubi Ase Putih sebagaimana yang diinginkan perusahaan,” jelasnya.
Menurutnya, dengan kerjasama tersebut, petani sudah tidak perlu susah-susah memasarkan hasil pertanian, karena sudah langsung dibeli oleh Perusda Batang yang bekerjasama dengan PT Indowooyang. “Harga ubi sudah ditentukan, sehingga petani tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak,” kata Bupati Yoyok.
Sedangkan Pengurus Kelompok Tani, Kecamatan Blado, Maryoso, 47, mengatakan bahwa dijualnya lahan sawah milik petani, karena tidak ada alternatif lain lagi bagi petani untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Namun, jika Bupati Yoyok menjamin adanya peningkatan kesejahteraan, maka petani akan berpikir ulang untuk menjual sawahnya. ”Kami berharap, Bupati Yoyok juga memberikan pelatihan dan bantuan modal lunak untuk pengolahan lahan pertanian,” tandas Maryoso.
Sementara itu, Direktur Perusahaan Aneka Usaha, Kabupaten Batang, Burhanudin menegaskan bahwa kerjasama antara Perusda Pemkab Batang dengan Indowooyang Korea, membutuhkan Ubi Ase Putih 25 ton per hari, atau 625 ton per bulan, Perusda juga telah mematok harga ubi jalar dengan harga Rp 1400/kg.
“Dengan ketinggian daerah di Kecamatan Limpung, Bawang, Blado, Bandar dan Reban, sangat cocok untuk tanaman ubi jalar Ase Putih. Selain itu, Perusda juga akan membeli jagung, padi dan hasil lainnya. Maka wajar jika Bupati melarang petani menjual sawahnya,” tegas Burhanudin. (thd/ida)