Pemandu Karaoke Dibui 18 Tahun

315

TEMANGGUNG — Gadis pemandu karaoke (PK) di kawasan objek wisata Bandungan, Kabupaten Semarang, Reni Astuti alias Dela, 23, dinyatakan bersalah. Oleh majelis hakim PN Temanggung, ia divonis hukuman 18 tahun penjara.
Dela dianggap terbukti secara sah dan meyakinkan, membunuh dan merampok Dwi Wijayanto alias Wiwit, 32, warga Banyumanik, Kota Semarang.
Dela yang duduk di kursi pesakitan, tak dapat berbuat banyak ketika hakim ketua, Maruli Tumpal Sirait, membacakan putusan pengadilan atas dirinya dalam kasus tersebut. Dela terbukti melanggar pasal 365 KUHP.
Vonis yang diterima Dela, lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Sugeng Riyadi. Sebelumnya, JPU Sugeng menuntut Dela hukuman 20 tahun penjara.
Atas vonis tersebut, Dela menyatakan menerima. Sedangkan JPU pikir-pikir. Pada sidang sebelumnya dengan kasus yang sama, Teguh Waluyo, 21, dan Nofi Suprihatin alias Gusdur, 20, diganjar masing-masing 19 tahun penjara. Mereka juga menyatakan menerima.
Maruli Tumpal Sirait pada amar putusannya mengatakan, Dela— meski terlibat perampokan hingga korban tewas—namun tidak berperan aktif atau berinisiatif dalam kejahatan tersebut. Dia hanya mengikuti alur yang diperintahkan oleh Teguh Waluyo dan Nofi Suprihatin.
Dikatakan, perencanaan penguasaan barang milik korban terjadi pada Jumat malam (1/11/2013), di kamar 107 Hotel Anisa Bandungan, tempat Dela dan Teguh menginap.
Setelah matang, Dela lantas menelepon korban untuk berkencan. Keduanya lantas bersepeda motor menyusuri jalan alternatif Semarang Temanggung melalui Kaloran. Sedangkan Teguh dan Nofi membuntuti.
Hingga kemudian, korban dibunuh di perkebunan Perampelan, Dusun Prandon, Desa Geblog Kaloran, Temanggung. Eksekusi dilakukan oleh Teguh dan Nofi. Tugas Dela, sebagai pengawas, berjaga apabila ada pengguna jalan yang melintas. ”Pada aksi itu, mereka mendapat uang Rp 4,7 juta dengan pembagian Teguh Rp 1,3 juta, Nofi Rp 2,4 juta, dan Dela Rp 1 juta,” katanya.
Penasihat hukum terdakwa, Dwi Supriyanto SH, mengatakan menerima putusan majelis hakim, karena semua terpidana menerimanya. Mereka mempertimbangkan, jika banding, maka hukuman akan lebih berat.
”Kami telah maksimal, terpidana takut menjadi hukuman mati atau seumur hidup.” (zah/lis/ce1)