Green Lifestyle

233

Oleh:
Stefani Lily Indarto

SAAT ini kerusakan lingkungan banyak terjadi di sekitar kita. Hal tersebut salah satunya dipicu oleh pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berwawasan lingkungan hidup seperti adanya pencemaran udara di perkotaan, dan masalah limbah industri. Kasus yang pernah terjadi akibat adanya pencemaran air dari pembuangan limbah industri di Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, pembuangan limbah di Waduk Karangkates Kabupaten Malang yang merugikan warga sekitar dan rusaknya habitat ikan yang ada, pencemaran udara yang disebabkan pabrik baja di sekitar Jrakah yang banyak dikeluhkan penduduk, serta adanya pengecoran logam di Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal yang mencemari kandungan air, tanah, polusi udara, dan suara merupakan beberapa potret buruk akibat adanya pencemaran lingkungan.
Bahkan hasil penelitian dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Puskesmas, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan kandungan timbal (Pb) dari limbah pengecoran logam tersebut yang melebihi ambang batas sangat membahayakan kesehatan seperti kulit gatal-gatal, kerusakan genetika, terjadinya kelumpuhan serta adanya infeksi saluran pernapasan. Selain itu bentuk kerusakan lingkungan dapat terlihat dari tercemarnya air di sumur, sehingga sudah tidak layak dikonsumsi, lahan pembuangan limbah yang sudah tidak bisa ditanami tanaman lagi, serta terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri.
Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi bersama agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat menyejahterakan masyarakat dan tidak menimbulkan bencana. Para pengusaha dituntut untuk mengubah sistem manajemen lingkungan agar sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Salah satu alat bantu yang dapat dilakukan adalah dengan diberlakukannya audit lingkungan.
Audit lingkungan merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan atas tata ruang penggunaan alam seperti air dan darat, pemberian izin atas penggunaan lahan, proses pemberian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang menjadi alat verifikasi yang obyektif atas upaya manajemen lingkungan dan dapat membantu mencari langkah-langkah perbaikan untuk meningkatkan kinerja lingkungan berdasarkan kriteria dan peraturan hukum yang telah ditetapkan (Kep. Men. LH 42/1994). Hal tersebut merupakan upaya proaktif perusahaan dalam meningkatkan kinerja operasional perusahaan terhadap lingkungan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra positif perusahaan.
Audit lingkungan ini juga membantu perusahaan untuk menilai dampak penggunaan energi dan bahan baku yang menyebabkan pencemaran, serta potensi daur ulang untuk mengantisipasi polusi atas limbah yang dihasilkan. Audit hendaknya dilakukan secara berkala untuk menentukan apakah kebijakan dan proses yang dilaksanakan sudah sesuai dengan aturan dan hukum yang ada dan telah dijalankan secara benar. Audit lingkungan berfungsi untuk memperbaiki penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bahan, minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang, serta menata pengelolaan dan pemantauan lingkungan sehingga terhindar dari perusakan lingkungan.
Dengan adanya audit lingkungan ini maka pengelolaan di sekitar lokasi perusahaan dapat terpantau secara baik sehingga jika ada hal yang menyimpang atau kurang tepat dapat diketahui sedini mungkin dan dicarikan jalan keluarnya. Harapan lebih lanjut adalah semua perusahaan dapat berjalan/beroperasi sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku, image perusahaan ke masyarakat menjadi lebih baik, dan mengakibatkan penghematan biaya yang potensial. Dengan melakukan audit lingkungan maka dapat diketahui secara tepat apakah proses produksi dan limbah yang dihasilkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan atau tidak, sehingga hal ini dapat meningkatkan kesadaran akan lingkungan bagi pemilik dan karyawan perusahaan tersebut. Dari sisi masyarakatnya sendiri juga perlu terus didorong untuk melakukan upaya-upaya sederhana menuju budaya ramah lingkungan (green lifestyle) seperti menghemat penggunaan listrik dan air, menanam dan memelihara pohon, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor serta mengelola sampah dengan baik.
Keamanan lingkungan hidup merupakan kunci untuk menjaga ekosistem, menghindari bencana lingkungan dan dampak perubahan iklim sebagai upaya pemulihan/perbaikan lingkungan serta pengelolaan sumber daya dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungannya. Dengan kesadaran bersama dari semua pihak, tidaklah sulit untuk mewujudkan green lifestyle sehingga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup secara berkelanjutan dapat tercapai. (*)