Lokasi Pengeboran ABT Digeruduk Warga

205

Mengganggu Sumber Mata Air

UNGARAN-Warga Lingkungan Junggul, Kelurahan/Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Senin (26/5) pagi kemarin menggeruduk lokasi pengeboran air bawah tanah (ABT) di kompleks villa di perbukitan Holywood. Pasalnya, pengeboran tersebut menganggu sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan 400 kepala keluarga Lingkungan Junggul.
Sampai di lokasi, warga langsung meminta pekerjaan pengeboran ABT dihentikan. Warga juga melaporkan masalah tersebut kepada Lurah Bandungan, Adiarso yang kemudian datang ke lokasi bersama Satpol PP untuk menghentikan proyek pengeboran tersebut. Penghentian proyek pengeboran tidak hanya di Junggul, tapi di lingkungan Piyoto, Bandungan juga.
Pantauan Radar Semarang, pengeboran ABT berada di perbukitan Holywood yang masuk Lingkungan Junggul tepat berada di atas empat mata air yang digunakan warga Junggul. Pengeboran itu dilakukan satu paket dengan pembangunan villa milik Rudi warga Semarang. Jaraknya tidak lebih dari 100 meter dari mata air yang sudah puluhan tahun digunakan warga. Pengeboran yang sudah berjalan satu minggu dengan capaian kedalaman 40 meter itu, menurut warga, sangat menganggu. Sebab mata air milik warga menjadi keruh, berlumpur, dan tidak bisa dikonsumsi. Selain itu, warga meminta pengeboran dihentikan selamanya, sebab warga khawatir mata air milik warga debitnya berkurang.   
“Padahal itu adalah air konsumsi. Selain itu, kalau pengeboran dibiarkan, kami khawatir mata air warga menjadi berkurang debitnya,” kata Totok Budianto, 54, warga Junggul, Bandungan.
Ditambahkan Ketua RW 4 Lingkungan Junggul, Kuswanto, 40, warga memang mengkhawatirkan adanya pengeboran tersebut. Karena itu, meminta kelurahan dan Satpol PP menghentikannya. Selain itu, pengeboran tersebut tidak berizin.   
“Warga keberatan karena berdekatan dengan empat sumber mata air yang digunakan sekitar 400 jiwa warga Junggul. Kami minta pengeboran ini dihentikan selamanya,” pinta Kuswanto.
Sementara itu, Lurah Bandungan Adiarso mengatakan bahwa pihaknya sudah memberikan peringatan kepada pemilik lahan yang digunakan untuk pengeboran. Sebab pemilik lahan belum memiliki izin mendirikan rumah sekaligus pengeboran sumur.
“Kami sudah memberikan peringatan dan meminta untuk menghentikan. Memang pemiliknya, Pak Rudi sudah melakukan pengajuan IMB. Karena ini, daerah resapan dan rawan longsor, maka kami minta dia mengecek dulu ke Bappeda apakah tanah ini dibolehkan atau tidak,” tuturnya.
Petugas Satpol PP yang datang ke lokasi pengeboran juga langsung memberikan surat peringatan kepada pemiliknya dan meminta suluruh pekerjaan dihentikan. Selain di lokasi milik Rudi, petugas Satpol PP meminta penghentian pengeboran ABT di lingkungan Piyoto, Bandungan.
Saat diklarifikasi, Rudi, 45, warga Semarang mengakui pembangunan rumah untuk villa dan pengeboran sumur belum ada izinnya. Pihaknya menyadari karena belum ada izinnya maka, pembangunan dihentikan. “Saya sudah mengajukan perizinan dan memang belum keluar. Saya pikir, proses izin berjalan, pembangunan juga bisa berjalan,” kata Rudi. (tyo/ida)