Event di Semarang Kalah Gebyar

415

BERBAGAI event pariwisata yang digelar di Kota Semarang dianggap belum mampu mendatangkan para pelancong dari luar kota untuk berbondong-bondong datang. Event yang digelar dinilai sekadar seremonial dan hanya dihadiri warga kota ini. Agar pariwisata Semarang dapat lebih dikenal, kekuatan kota ini sebagai kota Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE) seharusnya dapat dimanfaatkan.
Koordinator Penggiat Pariwisata Kota Semarang Benk Mintosih mengatakan, sejumlah event yang digelar seperti Banjir Kanal Festival, Pandanaran Art Fest, hingga Semarang Night Carnival sebenarnya sudah cukup bagus. Hanya saja, gelaran event yang diadakan Pemkot seharusnya melibatkan seluruh stakeholder yang ada. Semarang dinilainya mudah puas dengan event yang ada.  
”Yang terjadi di Semarang, punya event pokoknya ramai yang datang sudah merasa sukses. Padahal yang datang hanya orang-orang Semarang sendiri, belum mampu menarik minat orang luar Semarang,” ujar Benk yang kini menjadi operator jaringan Hotel Move ini.
Dia juga melihat event kadang digelar terlalu beruntun di bulan-bulan tertentu. ”Kadang sebulan banyak event, namun di bulan berikutnya benar-benar sepi,” katanya.
Seharusnya event rutin digelar, misalnya satu bulan sekali agar kota ini terus ramai.
Dia tidak memungkiri Semarang lebih dikenal sebagai kota MICE. Indikasi Semarang bukanlah kota wisata sebenarnya mudah dilihat dari tingkat hunian hotel di akhir pekan. Saat weekend, okupansi hotel rata-rata turun menjadi 65-70 persen, sedangkan di hari kerja justru menjadi 75 persen lebih. ”Bisa dilihat kalau malam minggu banyak hotel yang kosong. Ini berbeda dengan di Jogjakarta, Solo, atau Bandung. Bahkan di Bandung kalau akhir pekan, orang memilih tidak keluar rumah karena di mana-mana macet,” ungkapnya.
Indikator lain dapat dilihat dari arus lalu lintas yang keluar masuk dari dan ke Kota Semarang. Benk menilai, banyak warga Semarang justru berwisata ke luar kota saat weekend. Menurutnya, jika jalan tol Semarang-Solo nanti jadi, hotel-hotel di Semarang harus semakin bersaing dengan Solo dalam mendatangkan tamu.
Dia tak menyangkal sisi MICE lebih menggiurkan untuk digarap. Pasar terbesar yang disasar adalah pemerintahan. Benk mencontohkan satu Kantor Kementerian di Jakarta dapat diperebutkan 12 hotel di Semarang. Mereka saling bersaing agar sejumlah bidang di kementerian membuat acara seperti seminar, sarasehan, dan workshop di Semarang.
Dia berpendapat jika sisi pariwisata di Semarang kurang dapat diandalkan untuk menarik wisatawan, seharusnya Semarang bisa memanfaatkan sisi MICE untuk memperkenalkan destinasi yang ada.
Selama berkecimpung di dunia perhotelan, Benk mengaku sudah berupaya melakukan itu. Misalnya, para tamu seminar dalam sehari ditawari menggelar acara di Perkebunan Kopi Banaran yang menawarkan fasilitas outbond. Bisa juga dengan menyelipkan kegiatan city tour di sela-sela acara resmi.
”Kan tidak mungkin selama di Semarang mereka seminar atau pelatihan sepanjang hari. Di sela acara bisa disisipi city tour untuk lebih mengenalkan wisata Semarang. Mereka juga bisa diajak belanja dan mencicipi kuliner,” katanya.
Dengan begitu sepulang dari Semarang, mereka diharapkan mampu menjadi duta promosi wisata.
Dari sisi MICE, sebenarnya Semarang cukup potensial. Kota ini menempati posisi ke-11 paling diminati sebagai tujuan MICE. Posisi teratas masih dipegang Bandung. Menurutnya, Semarang diminati karena beberapa faktor. Di antaranya sudah memiliki ruang pertemuan berkapasitas besar, banyak penerbangan langsung, tidak ada konflik politik, aman, dan kulinernya lengkap. ”Kekuatan ini yang harus terus dijual. Dari kekuatan MICE ini kita bisa menyisipkan misi pariwisata,” katanya.
Sementara itu, event organizer juga berpendapat sama. Pengelola M7 Production, Mei Kristansi, mengatakan, event-event di Kota Semarang masih kalah gebyar dengan kota-kota lain, seperti Solo, Jember, atau Banyuwangi. Dia melihat ada beberapa penyebab event di Kota ini kurang bisa bergaung. Di antaranya image Semarang yang lebih dikenal sebagai kota perdagangan, bukan kota budaya.
Event yang digelar selama ini, diakuinya, juga kurang berpengaruh dalam mendatangkan para wisatawan dari luar daerah. ”Lebih banyak ditonton orang Semarang sendiri, gaung di luar daerah kurang,” katanya. (ric/aro/ce1)