Vihara Disambar Petir, Rupang Rusak

220

WONOSOBO –  Beberapa rupang yang tersimpan di vihara umat Buddha Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, mengalami kerusakan. Diduga penyebab kerusakan disambar petir. Dugaan ini muncul karena selain rupang runtuh, berdapat instalasi listrik yang terbakar.
Tokoh umat Buddha Desa Butuh, Barno, saat dihubungi Radar Semarang mengatakan, kerusakan rupang dalam altar vihara diperkirakan terjadi pada 14 Mei lalu. Namu baru diketahui sehari kemudian. Karena pada 14 Mei semua umat Buddha Desa Butuh mengikuti proses ritual Waisak di Candi Sewu Jogjakarta.
“Kami baru mengetahui kerusakan pada pada 15 Mei pagi, setelah pulang dari Jogjakarta,”katanya.
Barno mengatakan, kerusakan terjadi pada sejumlah rupang di dalam altar. Pihaknya tidak mengetahui secara persis pemicu kerusakan. Karena hari itu semua umat tengah pergi. Sejumlah warga juga tidak mengetahui kerusakan tersebut.
“Kami memang tidak melaporkan ke polisi, karena kami tidak punya saksi,”katanya.
Mendengar kerusakan ini, Camat Kalikajar Tono Prihatono Senin (19/5) lalu mengunjungi lokasi bersama Polsek Kalikajar. Karena ada sejumlah warga yang menyebarkan isu, rupang runtuh karena dirusak oleh pihak tak bertanggung jawab. Dari bukti-bukti penelitian dan keterangan umat, penyebab kerusakan bukan dirusak oleh tangan manusia melainkan disebabkan oleh faktor kuatnya sambaran petir.
“Lokasi vihara paling tinggi di antara bangunan lain. Selain itu, ada sejumlah kabel listrik yang terbakar,” imbuhnya.
Selain itu, kata Tono,  bukti fisik di lokasi berupa kabel gosong atau terbakar dan tempat kerusakan hanya di sekitar jalur kabel serta titik-titik yang rusak sangat tidak logis kalau dirusak dengan sengaja, menguatkan bahwa penyebab kerusakan adalah sambaran petir.
Terpisah Bupati Wonosobo Kholiq Arif mengatakan, masyarakat Wonosobo diminta tidak gampang termakan isu seputar SARA. Termasuk  menanggapi kejadian rusaknya Vihara Buddha Dusun Butuh.
“Rusaknya rumah ibadah milik kaum minoritas, jangan dilebih-lebihkan apalagi jika dikaitkan dengan SARA, sebab hal ini bisa mengganggu kehidupan masyarakat yang sudah terbangun harmonis selama ini,” imbaunya. (ali/lis)