Padukan Batik dan Kain Tenun

242

PLEBURAN — Puluhan desainer Jateng, kemarin (18/5), menunjukkan hasil karyanya berupa rancangan busana batik kepada masyarakat dalam acara fashion on the street di halaman kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Jateng Jalan Pahlawan Semarang. Mereka adalah desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Tengah, seperti Soese Asmadi, Elkana Gunawan, Riani, Agustin Siswanto, dan Ina Priyono. Selain itu, Dinperindag Jateng juga memamerkan busana karya 6 desainer dari sejumlah kabupaten dan kota di Jateng, seperti Zikin, Jazid Bastomi dan Totok Prihasanto. Kegiatan ini sebagai upaya untuk mengangkat kembali produk kerajinan asli Jateng berupa batik.
Dalam fashion show on the street itu, masing-masing desainer membuat inovasi beda. Namun tetap menonjolkan unsur batiknya. Desainer Soese Asmadi memadukan batik dan tenun dalam busana pesta. Perancang busana lainnya, Elkana Gunawan, menampilkan kombinasi yang cukup indah antara batik dan tenun ikat Troso dari Jepara. ”Saya selalu menghadirkan warna gelap. Tapi pada tahun 2014 ini, tenun Troso dari bahan selimut dihadirkan dengan warna cerah,” kata Elkana kepada Radar Semarang.
Sedangkan desainer Riani menampilkan kombinasi batik lawas yang cukup apik, hingga memberikan kesan klasik dan unik.
Busana batik karya desainer Agustiena Siswanto beda lagi. Ia menampilkan batik bermotif isi lautan, dengan kombinasi warna dominan biru cerah  dan merah. ”Batik ini dilukis manual dengan tangan, sehingga menghadirkan desain western yang cocok dipakai oleh banyak generasi,” ujar Agustiena.
Perancang busana Ina Priyono yang tetap eksis menggarap busana gamis, memilih mengombinasikan tenun pedan dari Jepara dalam warna-warni pelangi dengan warna hitam. ”Sehingga menjadikan busana muslim menjadi elegan,” katanya
Pergelaran adi busana dalam fashion on the street dibuka oleh peragaan busana oleh lima peragawati cilik asal Kota Semarang. Mereka mengenakan busana pesta warna-warni yang ngejreng. Kelima peragawati cilik ini tampil percaya diri di atas catwalk. Selanjutnya sejumlah model cantik tampil mengenakan busana batik karya para desainer secara bergantian.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng Siti Atiqoh Ganjar Pranowo mengatakan, fashion on the street dengan mengusung produk asli daerah itu diharapkan mampu menyadarkan masyarakat untuk lebih cerdas dalam menjadi konsumen. ”Apalagi pada 2015 mendatang akan dibuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di mana keran produk dari luar negeri bebas masuk ke Indonesia,” katanya dalam acara yang digelar dalam rangka Hari Konsumen Nasional itu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Edison P. Ambarua mengatakan, saat ini kerajinan berupa produk fashion berbahan batik, tenun, dan bordir sedang mengalami booming dan naik daun. Konsumennya juga semakin luas, tidak hanya untuk kalangan tertentu, tetapi sudah masuk dalam berbagai kalangan. ”Sehingga saat ini makin banyak konsumen yang menggunakan batik dan tenun untuk kegiatan harian yang tidak resmi, yang tentunya menjadi faktor pendorong untuk lebih memperbesar kapasitas industri batik,” ungkapnya. (hid/aro/ce1)