Perusahaan Siasati Kenaikan TDL

119

SEMARANG – Berbagai efisiensi mulai dilakukan oleh sejumlah pelaku usaha guna menekan biaya produksi. Hal ini sebagai respons dari kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) bagi industri golongan I3 dan I4 yang berlaku sejak 1 Mei lalu.
”Salah satu upaya kami dengan ketat menyeleksi kualitas bahan baku,” ujar Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Semarang Agung Wahono, kemarin. Menurutnya, kualitas bahan baku bisa menekan biaya produksi. Semakin baik kualitasnya akan semakin rendah tingkat kerusakan hasil produksi. Benang menjadi salah satu bahan baku yang sangat berpengaruh. ”Kalau benang terbuat dari kapas yang kualitasnya jelek maka tingkat ketebalan benang tidak bisa rata, ada yang tipis ada juga yang tebal akhirnya kain jadi mudah sobek ketika benang yang digunakan tipis,” ungkapnya.
Upaya lain yang dilakukan, industri tekstil juga melakukan efisiensi penggunaan sistem energi. Yaitu motor mesin yang digunakan pada proses produksi ini lebih diefisienkan agar tidak terjadi pemborosan listrik saat produksi berlangsung. Kemudian pengawasan dalam proses produksi juga lebih diperketat. Tujuannya untuk mengurangi adanya kesalahan dalam proses produksi. ”Jika sebelum ada kenaikan TDL pengawasan dilakukan di jam-jam tertentu, saat ini pengawasan dilakukan terus-menerus sehingga ketika ada kesalahan proses produksi langsung bisa dilakukan pembetulan,” tandasnya.
Kendati demikian pihaknya tetap berharap agar kenaikan TDL tidak dibebankan kepada industri golongan I3 dan I4 saja melainkan juga rumah tangga dengan golongan 450-900 watt. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jateng Frans Kongi juga berharap pemerintah dapat menilik ulang keputusan kenaikan TDL tersebut. Menurutnya dengan kenaikan TDL ini pengusaha tidak berat memikul beban biaya produksi yang cukup tinggi. ”Kami masih berusaha supaya pemerintah bisa mengubah keputusan menaikkan TDL,” katanya. (dna/smu/ce1)