Dua Guru Edarkan Kunci Jawaban Unas

145

Dijual Rp 1,5 Juta- Rp 3 Juta

BARUSARI–Pelaksanaan ujian nasional (unas) tingkat SMP/MTs dan sederajat di Kota Semarang diwarnai beredarnya kunci jawaban. Ini setelah aparat Satuan Reskrim Polrestabes Semarang berhasil mengungkap penyebaran 155 lembar kunci jawaban unas SMP/MTs dan sederajat di Kota Atlas, Kamis (8/5). Ironisnya, penyebaran kunci jawaban unas itu diduga melibatkan dua orang guru dan lima siswa SMA. Kabarnya, mereka hendak menjual kunci jawaban tersebut seharga Rp 1, 5 juta sampai Rp 3 juta per lembar.
Informasi yang dihimpun Radar Semarang menyebutkan, terungkapnya kasus ini bermula dari adanya informasi bocoran kunci jawaban unas tingkat SMP yang beredar di lapangan. Mendapat kabar itu, petugas yang dipimpin Kanit Resmob Polrestabes Semarang AKP Kadek Adi Budi Astawa langsung melakukan penelusuran.
Saat itu, polisi memergoki seorang siswa sedang membawa kunci jawaban unas mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah rental game online di Kota Atlas. Dari keterangan siswa itu, petugas mendapatkan informasi kalau kunci jawaban unas mata pelajaran yang lain akan diperbanyak di salah satu foto kopi di daerah Jalan Fatmawati, Pedurungan, Semarang.
Sejumlah polisi pun akhirnya nyanggong di tempat tersebut. Dan, setelah ditunggu, akhirnya mendapati lima siswa SMA sedang melakukan foto kopi kunci jawaban unas mata pelajaran IPA. Mereka adalah Ag, Pd, Hi, Dr, dan As. Kelima siswa salah satu SMA di Kota Semarang ini diamankan di lokasi foto kopi, Kamis (8/5) lalu.
”Saat diamankan mereka membawa foto kopi 155 lembar kunci jawaban unas mata pelajaran IPA,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto kepada Radar Semarang.
Wika menjelaskan, dari kelima siswa itu, polisi lantas melakukan pengembangan. Hasilnya, mereka mengaku mendapatkan kunci jawaban unas itu dari seorang guru Madrasah Aliyah (MA) di Kota Atlas berinisial Nh, 50. Polisi pun langsung bergerak menangkap Nh. Dan, setelah diperiksa, Nh mengaku mendapatkan kunci jawaban unas tersebut dari seorang guru Madrasah Tsanawiyah (Mts) di Grobogan berinisial Ad, 22. “Ada delapan orang yang sudah dimintai keterangan, tapi statusnya masih saksi,” ujarnya.
Pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Apakah kunci jawaban unas itu benar rahasia negara atau hanya akal-akalan sebagian orang untuk mendapatkan keuntungan. Sebab, dari semua soal yang ada, ternyata tidak seluruhnya ada kunci jawabannya. “Ini masih kami kembangkan, penipuan atau pembocoran rahasia negara,” katanya.
Seorang guru MA, Nh, 50, mengaku mendapatkan kunci jawaban unas tersebut dari Ad. Rencananya, kunci jawaban itu akan diberikan kepada anaknya yang juga mengikuti unas tingkat SMP.
Wika menambahkan, kasus jual-beli kunci jawaban ini sudah berlangsung sejak hari pertama unas SMP pada Senin (5/5) lalu. Sebab, petugas Polrestabes Semarang juga sempat mengamankan kunci jawaban mata pelajaran Bahasa Inggris, meski hanya satu lembar.
“Dugaan sementara, jelas (peredaran kunci jawaban unas) ini sudah sejak hari pertama unas. Kami masih mengembangkannya,” ujarnya.
Dikatakan, master kunci jawaban unas itu hanya setengah lembar. Namun sudah difotokopi menjadi 155 lembar. Rencananya, kunci jawaban IPA itu akan diedarkan di seluruh SMP di Kota Atlas. Beruntung, belum sempat beredar, aksi itu sudah terendus dan digagalkan. “Masih belum bisa disimpulkan apakah kunci jawaban ini asli atau palsu. Kami masih meminta keterangan sejumlah saksi,” katanya.
Terpisah, Ketua Panitia Penyelenggaraan Unas Kota Semarang Sutarto mengaku belum menerima laporan terkait penangkapan guru dan siswa SMA yang disinyalir mengedarkan kunci jawaban unas SMP tersebut. “Mungkin itu intelijen dari pihak kepolisian, Dinas Pendidikan tidak tahu dan belum diberi tahu. Keterangan guru mana, murid mana, apakah dari Semarang atau luar Semarang kita juga tidak tahu”, katanya.
Disinggung langkah Disdik terkait informasi itu, Sutarto mengaku masih akan berkoordinasi dengan kepala dinas untuk menentukan sikap apa yang akan dilakukan institusinya. “Sementara kita menunggu perkembangan dari pihak kepolisian saja. Karena ini sudah masuk ranah kepolisian. Besok Senin (12/5) saya akan menghadap pimpinan, karena ini ranahnya sudah kebijakan, jadi harus dikoordinasikan dulu terkait sikap disdik”, tandasnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin. Ia juga mengaku belum menerima laporan terkait adanya penangkapan oknum guru dan siswa yang diduga menjual kunci jawaban unas SMP tersebut. “Saya belum terima laporan Mas”,ujarnya singkat.
Disdik, kata dia, belum bisa mengambil sikap terkait kasus tersebut. Pihaknya masih akan menunggu perkembangan kasusnya dari pihak kepolisian. Termasuk informasi dari kepolisian terkait kronologis dan data oknum guru dan murid yang tertangkap tersebut. (fth/zal/aro)