Produk UMKM Tembus Pasar Modern

287


WONOSOBO – Sedikitnya 49 jenis produk UMKM Wonosobo, mulai tahun ini menembus pasar modern. Salah satu pasar modern yang memasarkan produk kota dingin itu yakni Carrefour yang memiliki jaringan hypermarket kelas dunia. Kerja sama itu, kemarin (8/5) dilakukan dalam Wonosobo Fair di forum temu buyer.
“Iya kami sudah lakukan kerja sama dengan UMKM Wonosobo, untuk memasarkan produk di Carrefour,” ungkap Arie Witjaksono External Communication and Corporate Social Responsibilities Manager Carrefour kepada Radar Semarang.
Arie mengatakan, upaya membangun kerja sama ini sudah cukup lama. Karena pihaknya harus melakukan penjajakan terhadap hasil produksi UMKM Wonosobo. Setelah itu, dilakukan identifikasi dan saat ini sudah ada 49 produk Wonosobo yang sudah masuk barcode Carrefour.
“Jumlah ini tentu akan terus berkembang, tinggal bagaimana ke depan UMKM di Wonosobo melakukan terobosan dalam memproduk barang yang disukai pasar,”katanya.
Arie mengatakan, dari 49 produk yang sudah mempunyai barcode tersebut, didominasi oleh makanan dan minuman olahan. Untuk proses verifikasi barang memang memakan waktu cukup lama. Selain memastikan barang sudah mengantongi sertifikat penyuluhan industri rumah tangga (PIRT), juga harus memiliki tiga K, meliputi kuantitas, kualitas dan kontiunity.
“Tiga prinsip itu yang dipegang Carrefour. Harapannya barang disukai pasar, bermutu dan memiliki daya produksi yang stabil sesuai kebutuhan pasar,” jelasnya.
Untuk pemasaran awal, kata Arie, produk UMKM Wonosobo sementara dipasarkan di dua Carrefour terdekat yakni Jogjakarta dan Semarang. Ke depan apabila memang penjualan meningkat, akan dilebarkan ke semua jaringan Carrefour di Indonesia, bahkan ke jaringan dunia.
“Kalau memang produk bagus dan memenuhi prinsip tiga K tadi, bisa masuk distribusi dunia,” imbuhnya.
Sementara itu Bupati Wonosobo Kholiq Arif mengatakan, perlunya para pelaku UMKM meningkatkan mutu produk, mengingat prospek usaha mikro kecil di masa depan masih sangat cerah.
Pada tahun 2015, seiring dengan berlakunya UU Desa, setiap desa akan mengelola dana dalam jumlah cukup besar, mencapai Rp 1 miliar lebih per tahun.
“Dengan adanya dana tersebut, 236 desa di Kabupaten Wonosobo dapat menyiapkan konsep desain pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis potensi yang dimiliki,” ungkapnya.
Salah satu skemanya, menurut Kholiq dengan mengalokasikan dana yang diterima, untuk membina dan mengembangkan UMKM yang ada di masing-masing desa.
“Sebagai contoh Desa Sikunang, Jojogan, dan Parikesit di Kecamatan Kejajar, yang selama ini dikenal dengan potensi carica dan purwaceng, sebagai salah satu produk unggulan,” pungkasnya. (ali/lis)