Banyak Toko Pilih Tutup

137

TEMANGGUNG—Letusan Gu­nung Kelud di Jawa Timur dam­pak­nya menyebar hingga ke Ka­bupaten Temanggung kendati berjarak ratusan kilometer. Debu letusan gunung cukup tebal menghujani daerah penghasil tembakau ini. Dampaknya sejumlah pertokoan dan warung makan memilih tutup dan siswa sekolah terpaksa dipulangkan lebih awal.
Kawasan pertokoan di Kota Temanggung banyak yang memilih untuk tidak membuka tempat usaha mereka, termasuk di Pasar Kliwon Temanggung. Selain itu, warung makan dan pedagang makanan di Alun-Alun Temanggung juga sebagian besar tutup.
Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi telah memerintahkan sejak subuh kepada BPBD, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial untuk membagikan masker gratis kepada masyarakat. Namun hingga pukul 06.30 ribuan masker yang dibagikan telah habis. “Kami minta ke RSU, PMI dan semua yang memungkinkan menyimpan dalam jumlah cukup, tetapi habis,” katanya.
Pembagian masker difokuskan untuk pengguna jalan raya di sejumlah titik. Warga yang beraktivitas dan melintasi jalan raya harus menggunakan masker karena Temanggung diguyur abu cukup tebal. Warga kebingungan untuk mendapatkan masker karena disejumlah swalayan telah kehabisan stok. “Kami masih mencari untuk tambahan apabila kondisi ini terus terjadi,” kata Kepala BPBD Temanggung, Agus Widodo.
Ia mengatakan, kondisi abu tebal apabila tidak diguyur hujan, pada Sabtu (15/2) pihaknya akan melakukan penyemprotan menggunakan mobil pemadam kebakaran, Dinas Sosial, PDAM dan tangki air milik DPU. “Kalau sudah hujan tidak perlu. Tapi kalau tidak hujan harus disemprot agar tidak mengganggu,” tambahnya.
Kepala SDN Tegowanuh Sri Puji Lestari mengatakan, sejak pelajaran belum di mulai, abu akibat letusan Gunung Kelud sudah memenuhi halaman sekolah dan ruangan kelas. Sehingga sebelum masuk siswa terpaksa membersihkan ruangan kelas terlebih dahulu. “Tidak hanya di halaman sekolah saja, abu vulkanik masuk ke semua ruangan kelas termasuk kantor guru juga,” katanya.
Meski dipenuhi dengan abu vulkanik, terang Puji, pada jam pelajaran pertama hingga pelajaran ke lima masih masih berjalan dengan baik, namun karena hujan abu tidak kunjung berhenti maka pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan lebih awal para siswanya. “Ini kan hari Jum’at, biasanya memang pulang lebih awal dari hari biasa, tapi kali ini pulangnya lebih awal satu jam dari hari biasa,” katanya.
Keputusan ini dilakukan karena menurutnya, selama pelajaran berlangsung siswa menjadi terganggu, sebab tidak semua siswa menggunakan masker saat mengikuti jam pelajaran. “Sampai saat ini belum ada masker, jadi kami putuskan untuk pulang lebih awal, daripada siswa kami terlalu banyak menghirup udara yang bercampur dengan abu vulkanik,”katanya.
Ia menambahkan, jika kondisi ini masih terjadi hingga Sabtu (hari ini) maka pihaknya akan meminta kepada semua guru dan siswa untuk bergotong royong membersihkan abu vulkanik sebelum jam pelajaran dimulai. (zah/lis)