10 Rumah Ambles Diterjang Banjir

187

GEMAH — Sebanyak 10 rumah di Kelurahan Gemah RT 3 RW 11, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan ambles diterjang arus sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Minggu (26/1) petang. Bahkan, satu rumah hampir seluruhnya hanyut. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Ketua RT 3 RW 11 Winarno mengatakan, kejadian bermula pada Sabtu (25/1) pukul 03.00 dini hari, rumah milik Iswanto, 35, diterjang banjir sungai BKT yang meluap. Karena kejadian tersebut, warga berinisiatif untuk kerja bakti dengan memasang talut dari bambu. Namun usai warga memasang talut, tepatnya saat terjadi gempa Sabtu sore, mengakibatkan rumah Iswanto dan dua rumah warga lainnya roboh. Sedangkan 7 rumah lainnya mengalami ambles hingga 30 sentimeter.
Pantauan Radar Semarang, meski pada Minggu (26/1) petang air sungai BKT sempat menyusut, namun pada malam harinya air kembali naik, meski tak sampai meluap ke halaman rumah warga. Terlihat, aparat kepolisian dan TNI berjaga-jaga di posko yang letaknya tak jauh dari sungai BKT.
Winarno berharap, segera ada bantuan dari Pemerintah Kota Semarang, karena kondisi yang belum aman. Bahkan, sejumlah rumah warga yang berjarak sekitar 10 meter dari sungai juga mengalami retak.
Hingga kemarin, diakuinya, sudah ada bantuan dari Kelurahan Gemah dan Kecamatan Pedurungan berupa sembako, serta dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) yang membantu kerja bakti.
”Kalau bantuan secara pribadi kepada para korban belum ada,” ujarnya yang mengatakan, kerugian ditaksir mencapai Rp 100 juta.
Salah satu pemilik rumah yang roboh, Iswanto, mengatakan, sebenarnya rumahnya sudah mulai retak sejak Jumat siang. Saat itu, dirinya baru bekerja, sedangkan sang istri berada di rumah. Beruntung, saat kejadian, tidak ada seorang pun anggota keluarganya di dalam rumah. Sehingga tidak sampai menimbulkan korban.
Sementara itu, warga Perumahan Trangkil Baru RT 6 RW 10, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati yang tinggal di tenda pengungsian menolak jika direlokasi ke rumah susun sewa (Rusunawa) Kaligawe. Mereka menginginkan tetap menempati perumahan tersebut. ”Kalau bisa, tidak usah direlokasi saja,” kata Lestari, 33, warga RT 6 RW 10 saat berdialog dengan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo yang mengunjungi lokasi pengungsian kemarin.
Lestari mengatakan, kalau direlokasi ke Rusunawa Kaligawe, tentunya anak-anak mereka akan kerepotan. Karena sekolahnya menjadi jauh. Sedangkan jika harus pindah, butuh biaya tidak kecil. ”Saya telah berjualan di Trangkil, kalau harus pindah berarti harus memulai dari nol lagi,” keluhnya.
Warga lain, Purwaningsih, 32, juga keberatan kalau dipindah ke rumah susun Kaligawe.
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo meminta warga mau direlokasi. Sebab, tempat tersebut sudah tidak layak untuk tempat tinggal. ”Tempat ini bukan untuk permukiman, tetapi lebih tepat untuk penghijauan atau konservasi,” katanya.
Pada bagian lain, warga yang menjadi korban banjir maupun longsor mulai terserang penyakit. Mulai gatal-gatal hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Banyaknya warga yang terserang penyakit terlihat dari data sejumlah puskesmas yang mendirikan posko kesehatan di daerah banjir. Seperti Puskesmas Bandarharjo yang sepekan ini membuka posko kesehatan di beberapa titik banjir.
”Saat pengobatan masal di RW 3 Kelurahan Kuningan, jumlah warga yang berobat mencapai 140 orang, sementara di posko kesehatan yang kami dirikan kemarin ada sekitar 150 orang. Kalau dilihat jumlah warga yang berobat mencapai ratusan lebih setiap harinya, kondisi banjir ini memang berpotensi atau rawan penyakit,” ujar Kepala Puskesmas Bandarharjo, Tri Susilo Hadi, Minggu (26/1).
Menurutnya, dari diagnosis penyakit selama pengobatan masal, paling banyak warga terserang ISPA dan gatal-gatal. Pihaknya memastikan, pengobatan warga bebas biaya alias gratis, termasuk dalam pemberian obat. ”Kita berikan pelayanan gratis untuk warga korban banjir. Hari ini (kemarin) kita juga mengadakan pengobatan masal bekerja sama dengan karang taruna warga setempat,” terangnya.
Selain korban banjir, warga korban longsor di Trangkil juga mulai terserang penyakit. Dokter di posko kesehatan dari Puskesmas Gunungpati, Fersa Ambri H mengatakan, sejak terjadi pengungsian, Kamis (23/1) lalu, sudah ada 40 orang yang dirawat. Mereka rata-rata menderita sakit flu dan pilek karena faktor cuaca, baik orang dewasa maupun anak-anak.
Sedangkan untuk penyakit depresi atau stres belum dialami olah para pengungsi. Tim petugas kesehatan selalu keliling ke tenda-tenda pengungsian untuk mewaspadai adanya pengungsi yang sakit. ”Kami siap memberi rujukan ke rumah sakit jika ada pengungsi yang sakit berat, obat-obatan juga sudah di-back up oleh Dinas Kesehatan,” tandasnya. (ars/hid/zal/aro/ce1)