Dua Penadah Aset PT KAI Ditangkap

259

BARUSARI — Dua penadah hasil penjarahan aset berharga milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 di Jalan Pengapon No 2 Semarang berhasil dibekuk Unit Reskrim Polsek Gayamsari dan Resmob Polrestabes Semarang. Keduanya, Leo Sujarwo, 45, warga Kampung Jati Mulyo, Pengapon, Semarang Timur, dan Kholid, 34, warga Margosari, Sawah Besar, Gayamsari. Kholid dan Leo dibekuk di rumah masing-masing sekitar pukul 14.30 dan 15.30 kemarin. Kholid ditangkap lebih dulu di rumahnya. Dia merupakan pemilik usaha pembuatan mebel. Sedangkan Leo dibekuk satu jam kemudian dari pengakuan tersangka Kholid.
Leo mengaku mendapatkan balok dan papan kayu jati tersebut dari Temu, warga Tambaksari, Semarang. Ia tak tahu kalau kayu tersebut barang curian. Barang itu dibelinya sebanyak tiga kali, dengan harga mulai Rp 4 juta sampai Rp 7 juta.
”Saya kenal Temu di pelabuhan, dan ditawari di jalan. Barang saya beli pada bulan Desember 2013. Pertama saya beli 12 batang,” katanya.
Setelah barang dibeli, Leo lantas menjualnya kepada temannya, Kholid. ”Saya lalu jual barang itu, yang Rp 4 juta jadi Rp 7 juta. Ibaratnya saya hanya sebagai makelar saja,” ujarnya.
Kholid juga mengaku tidak tahu kalau barang tersebut hasil curian. Ia mau membeli kayu tersebut dari Leo karena ditawarkan dengan harga murah dan kualitasnya bagus. ”Saya tidak tahu jika barang itu curian. Belinya lewat Pak Leo, karena sudah kenal, ya percaya saja,” katanya.
Kayu tersebut dikirim ke rumah Kholid dengan mobil pikap. Selanjutnya, kayu balok dan papan itu disimpan di dalam rumah. ”Biasanya jual-beli kayu tidak pernah seperti ini, kalau tahu barang curian, saya tidak mau,” akunya sambil tertunduk lesu.
Kanit Reskrim Polsek Gayamsari AKP Suharto mengatakan, penangkapan kedua penadah aset cagar budaya itu bermula dari kecurigaan polisi setelah melihat sejumlah kayu lawas di rumah Kholid. ”Dari situ, kami sidik dan memanggil pihak PT KAI,” katanya.
Setelah dikroscek, ternyata petugas PT KAI membenarkan jika kayu itu merupakan barang cagar budaya yang hilang. Saat itu juga tersangka Kholid ditangkap dan digelandang ke Mapoltabes Semarang berikut barang buktinya. ”Dan, setelah dikembangkan, kami menangkap penadah lain, yakni tersangka Leo,” jelasnya.
Hingga kemarin, polisi masih memburu Temu, orang yang kali pertama menjual kayu jati curian tersebut.
Sementara itu, diduga kuat pencurian aset PT KAI itu melibatkan orang dalam. Sejauh ini, penyidik Satuan Reskrim Polrestabes Semarang telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk pegawai PT KAI.
Soal dugaan keterlibatan orang dalam PT KAI ini, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto enggan berkomentar. Namun dilihat dari modus pelaku, tidak menunutup kemungkinan ada orang dalam. Sebab, cara bekerjanya cukup rapi, dan barang yang diambil berupa balok dan papan kayu jati jumlah banyak mencapai 14 meter kubik. Meski begitu, pihaknya belum berani untuk memastikannya.
”Baru diperiksa saksi, jadi belum bisa menyimpulkan ada atau tidak keterlibatan orang dalam,” kata AKBP Wika Hardianto kepada Radar Semarang.
Seperti diberitakan Radar Semarang kemarin, sejumlah aset berharga milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 Semarang di Jalan Pengapon No 2 Semarang raib dicuri. Aset yang hilang berupa balok dan papan kayu jati sekitar 14 meter kubik yang digunakan sebagai alas di lantai dua dan tiga bangunan yang sebelumnya menjadi kantor dan bengkel kereta api tersebut. Ironisnya, sejumlah aset yang hilang di dalam gedung itu ternyata sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.
Pelaku yang diduga lebih dari dua orang melakukan pencurian dengan cara memotong konstruksi dari lantai dan rangka atap. Kerugian akibat pencurian itu ditaksir mencapai lebih dari Rp 200 juta. (fth/aro/ce1)