Sidang Pembunuhan Dipadati Massa

230

MUNGKID– Sidang kasus pembunuhan Gustian Sigit Prasetyo, 19, warga Jetis Ponggol, Tamanagung, Kecamatan Muntilan mulai digelar di Pengadilan Negeri Mungkid, kemarin. Kasus yang berbuntut kerusuhan antarwarga itu pun kemudian memicu massa untuk datang mengikuti sidang.
Selama persidangan yang di­pimpin hakim ketua, Sulistiyanto RB, didampingi Murdian Ekawati dan Wahyu Sudrajad itu, selain diikuti anggota keluarga dan kerabat korban, juga ada puluhan warga Ponalan. Meski begitu, sidang berjalan aman dan tertib di bawah pengamanan ketat puluhan anggota Polres Magelang yang berjaga di berbagai sudut gedung pengadilan.
Lima orang saksi diperiksa dalam sidang perkara dengan terdakwa Arif alias penyu, 22, warga Ponalan, Tamanagung, Muntilan. Masing-masing saksi adalah Wihada Putra, Wiyantoro, Slamet Widodo, Priambodo, serta Wahyu Nur Faizin.
Menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU), ZK Bagus CY, saksi Wihada Putra menceritakan insiden berdarah yang menelan korban jiwa (alm) Gustian Sigit Prasetyo di arena pentas musik organ tunggal di Ponalan, 24 Agustus 2013 sekitar pukul 23.00.
Awalnya, saksi melihat terdakwa akan memukul korban dengan kursi plastik. Niat itu dapat dicegah oleh saksi dan kawan-kawan. Lalu korban diajak pulang ke Ponggol. Tiba di pertigaan dekat stasiun Radio FM Gemilang, korban kembali lagi ke arena pertunjukan naik sepeda motor milik Wihada.
Merasa tak enak hati, Wihada segera menyusul meski harus jalan kaki sejauh kira-kira 1,5 km. Tiba di lokasi, saksi melihat korban tengah bersitegang dengan terdakwa di belakang pentas. Korban marah karena diminta memberikan miras lalu memukul terdakwa hingga terjatuh.
Saksi terkejut ketika melihat terdakwa memegang sebilah pisau. ”Saya berteriak mengingatkan korban, tetapi terlambat karena pisau di tangan terdakwa telah menembus dada korban hingga jatuh berlumuran darah,” kata Wihada Putra. Dengan sigap, saksi dan teman-temannya berniat membawa korban ke rumah sakit. Belum lagi motor melaju, tubuh korban tertimpa ”hujan batu” hingga terjatuh dari atas boncengan sepeda motor. Kendati dengan susah payah, korban dapat dibawa ke rumah sakit.
JPU ZK Bagus CY mengatakan, berdasarkan hasil visum dr Lipur Riyantiningtyas, dokter RSUP Dr Sardjito Jogjakarta tertanggal 18 September 2013, korban meninggal akibat luka tusukan di bagian dada menembus paru-paru.
Dalam perkara ini, JPU menjerat terdakwa dengan pasal berlapis. Dakwaan primer kesatu, melanggar pasal 338 KUHP dan dakwaan primer kedua pasal 354 ayat (2) KUHP. Sedang dakwaan subsider melawan pasal 351 ayat (3) KUHP. (vie/lis)