Bila Rekahan Meluas, Sidosari Direlokasi

240

MUNGKID—Ancaman tanah retak di Desa Sidosari Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang disikapi serius oleh pemkab setempat. Dalam waktu dekat tim ahli geologi akan diturunkan guna memantau ancaman bencana itu.
“Kami sudah menghubungi tim ahli geologi untuk melakukan kajian. Tim tersebut, akan mencari solusi dan pemicu gerakan tanah di Sidosari,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo.
Menurutnya, selain menghubungi beberapa ahli geologi, BPBD juga berkoordinasi dengan UGM, BPPTKG Yogyakarta dan PVMBG Bandung.
Nantinya, kajian yang dilakukan di wilayah Sidosari tersebut akan menjadi rekomendasi pihaknya untuk melakukan penanganan yang tepat.
”Konsultasi dan koordinasi itu sangat penting. Harapannya, ada rekomendasi tepat untuk mitigasi Agar penanganan tetap tepat dan menyelesaikan akar masalahnya,” kata Joko.
Apakah warga perlu direlokasi? Joko mengaku belum berani berspekulasi. Namun jika kondisinya makin membahayakan relokasi adalah salah satu solusinya.
Sebagaimana diketahui di Desa Sidosari terdapat rekahan tanah besar di dua dusun berpenghuni sekitar 800 warga. Dua dusun itu adalah yaitu Kranjang Lor I dan Kranjang Lor II.
Rekahan tanah dan rumah retak ini sebelumnya bermula pada tahun 2006, dan terus muncul setiap tahun hingga di musim hujan tahun ini. Pemicu awal keretakan tanah dikarenakan banyaknya kolam air di desa tersebut. Dasar kolam air yang tidak kedap mengakibatkan banyak air yang meresap ke tanah.
Menurut Joko, berdasar rilis yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebanyak 12 Kecamatan yakni Kajoran, Pakis, Windusari, Kaliangkrik, Salaman, Borobudur, Dukun, Sawangan, Ngablak, Grabag, Candimulyo, dan Tegalrejo, berpotensi terjadi gerakan tanah tingkat menengah-tinggi.
Sementara, enam kecamatan yakni Secang, Tempuran, Merto­yudan, Mungkid, Muntilan, berpotensi gerakan tanah tingkat menengah. Tiga kecamatan yakni, Ngluwar, Salam, Srumbung, berpotensi gerakan tanah tingkat menengah dan berpotensi terjadi banjir bandang.
”Utamanya daerah di pegunungan Menoreh dan Sumbing, memang rawan terjadi longsor dan gerakan tanah,” paparnya. Sebelumnya diberitakan, sebanyak 198 bangunan rumah milik warga di Dusun Kranjang Lor I dan Kranjang Lor II, Desa Sidosari, Kecamatan Salaman terancam retak dan longsor. Hal itu dikarenakan tanah di dua dusun tersebut merekah dan mengalami keretakan di tiga bagian.
Kepala Dusun Kranjang Lor I Khamid mengatakan, keretakan tanah itu menjalar dari utara ke selatan dengan lebar keretakan 20 sentimeter hingga 1 meter. Sementara panjang retakan mencapai 200 meter. Keretakan tanah di jalur II sepanjang 1.200 meter, dan jalur III sepanjang 300 meter. (vie/lis)