Boleh Melihat, Dilarang Menyentuh Benda Purbakala

278

Situs Liyangan Jadi Objek Kunjungan Warga Luar Kota

Situs Liyangan yang kini masih dalam proses ekskavasi untuk diungkap secara fisik dan perkiraan peradaban, disasar banyak pengunjung. Situs yang berlokasi di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo ini setiap hari ramai dikunjungi masyarakat dari dalam dan luar kota.

Petugas lapangan, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Samudi, mengatakan kunjungan para wisatawan tersebut didominasi kalangan pelajar yang ingin melakukan pantauan langsung terhadap situs yang diduga peninggalan Mataram Hindu ini. “Untuk para pengunjung kami beri tempat melihat-lihat keberadaan situs ini, tapi kami larang untuk menyentuh apalagi mengambil benda-benda temuan,”katanya.
Ia mengatakan, rata-rata kunjungan harian antara 30-50 orang. Pada akhir pekan, jumlah tersebut meningkat lebih banyak. Khususnya dari pengunjung luar kota yang hendak melakukan riset ataupun hanya sekadar menikmati sisa peninggalan sejarah di lereng Gunung Sindoro ini. “Ada yang melakukan penelitian, ada juga yang hanya penasaran ingin melihat,” tambahnya.
Untuk para pengunjung, dikenakan biaya masuk dengan tarif seikhlasnya. Biaya masuk tersebut digunakan untuk kepentingan menjaga kebersihan, keamanan dan layanan lainnya di kawasan situs. “Memang belum seperti objek wisata pada umumnya, tapi ini memiliki daya tarik karena temuannya yang kompleks,” terangnya.
Sementara itu, Purjatian, 27, pe­ngunjung asal Jogjakarta me­ngatakan, ia bersama sejumlah rekannya sengaja datang untuk mengetahui secara langsung keberadaan situs.
Sebab, selama ini informasi yang diperoleh dari media hanya sebatas gambaran, sehingga membutuhkan observasi langsung.
“Justru semakin tertarik untuk mengetahuinya setelah saya mendengar bahwa temuan-temuan pada situs ini sangat beragam. Ini akan berpotensi besar menjadi objek wisata apabila dilakukan penggarapan dengan serius,” katanya.
Dikatakan, diperlukan penanganan khusus dari pihak terkait untuk keseriusan proses ekskavasi. Sebab, temuan yang feno­menal ini apabila tidak dilakukan ekskavasi yang memadai justru akan membuat temuan besar ini sia-sia. “Gambaran saya, tempat ini akan menjadi objek wisata dalam bentuk perkampungan kuno, lengkap dengan rumah panggung dan alat-alat keseharian. Ini sangat menarik sekali,” tandasnya. (zah/lis)