Menolak Dioperasi Agar Tetap Bisa Kerja

HABDI Ahwadin, 51, warga Kampung Mertosari, Kelurahan Selomerto, Kecamatan Selomerto, terserang penyakit cukup langka yang disebabkan virus papiloma. Sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kepala sampai kaki ditumbuhi kutil. Bahkan, benjolan di kakinya sampai sebesar buah kelapa.

Walau demikian kondisinya, Habdi tetap tidak minder. Ia tetap bekerja keras menafkahi keluarga dengan bekerja serabutan. Sampai sejauh ini ia masih mampu menafkahi istri dan ketiga anaknya.

Saat akan dioperasi atas bantuan pemerintah, ia memilih menolak. Alasannya, ia tak mau jadi beban keluarga usai menjalani operasi. Sebab, desas desus yang didengarnya dari tetangga, operasi yang dimaksud sampai pada tindakan amputasi kaki. "Banyak yang bilang kalau dioperasi risikonya seperti itu, jadi saya memilih menolak," tutur Habdi kepada rombongan komunitas Agus Agus Bersaudara Indonesia (AABI) Wonosobo yang mengunjunginya, Kamis (15/6).

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Selomerto Tri Astuti menjelaskan, rencana operasi sedianya dijadwalkan pada pertengahan Mei lalu. Habdi terdaftar sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Selain itu, Habdi juga telah menerima dana asistensi sosial setiap bulan. "Semua berkas yang dipersyaratkan untuk operasi sudah siap, dan diagnosa dari dokter Rumah Sakit Margono pun telah dikantongi, namun Habdi memilih tidak berangkat," terangnya.

Ternyata, keputusan Habdi untuk tidak menjalani operasi juga mendapat dukungan sang istri, Anik Usmah, 38, dan ketiga anaknya. Sebab, Habdi masih diandalkan sebagai tulang punggung keluarga.

Anik membeberkan, kendati dengan kondisi seperti itu, tenaga Habdi terus dibutuhkan warga sekitar. Walau hasil hariannya tak seberapa, namun itu cukup untuk memenuhi keperluan harian.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar