400 Penari Suguhkan 22 Tari

SEMARANG – Lebih dari 400 penari dari 10 sanggar tari di Jateng bakal unjuk gigi dalam helatan Gelar Tari Bersama di Museum Ranggawarsita Semarang, Sabtu (20/5) sore. Mereka akan membawakan 22 tarian tradisional seperti Tari Batik Troso, Tari Lengger, Tari Laskar Giri Bibi, Tari Topeng, dan Tari Lurik sebagai pungkasan.

Pengasuh Sanggar Greget Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo menjelaskan, penampilan bersama sejumlah sanggar tari di Jateng ini merupakan hasil dari forum tari tradisional yang digelar di Solo, beberapa waktu lalu.

”Kami sepakat akan menggelar tari bersama untuk mendongkrak kembali popularitas tari tradisional. Sementara ini masih tiga bulanan, digelar keliling beberapa kota di Jateng,” tegasnya ketika ditemui di sela-sela gladi bersih di Museum Ranggawarsita, Kamis (18/5).

Selain Sanggar Greget, ada juga Studio Taksu Surakarta, Abdi Laras Kabupaten Batang, Kembang Lawu Kabupaten Karanganyar, Satria Kabupaten Wonosobo, Rama Wijaya Kota Salatiga, Sekar Rinonce Kota Salatiga, Kalamangsa Kabupaten Banyumas, Pasopati Kabupaten Boyolali, dan Iromo Turungso Kabupaten Magelang. ”Sebenarnya masih banyak sanggar lain yang ingin gabung. Tapi karena tempatnya kurang luas, jadi dibatasi,” terangnya.

Dalam pertunjukan tari tersebut, Yoyok coba mengangkat Tari Lursik yang dipentaskan di penghujung acara. Nantinya, 11 penari dari Sanggar Greget akan menari dengan kain lurik sepanjang 15 meter. Selain itu, para penari juga mengenakan pernik berbahan dasar kain lurik. Seperti baju, tas, kebaya, dan lain sebagainya.

Dijelaskan, lurik merupakan kain khas Jawa selain batik. ”Tapi yang dipromosikan selama ini hanya batik saja. Lurik masih dinomorsekiankan,” ucapnya. Kain ini punya filosofi yang menggambarkan kepribadian orang Jawa. Yaitu pola lurus yang menegaskan bahwa orang Jawa itu jujur dan tidak neko-neko. (amh/ric/ce1)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar