Atasi Kemacetan Kota, Ajak Pekerja Budayakan Naik Sepeda Onthel

Menurutnya, budaya bersepeda memiliki tujuan mulia. Mulai tentang kepedulian lingkungan karena tidak mengakibatkan polusi udara, hidup sehat, hingga mengurangi potensi kemacetan. Kesadaran masyarakat di Kota Semarang untuk merawat budaya bersepeda saat ini terbilang cukup bagus.

”Meski faktor geografis Semarang yang berbukit dan banyak tanjakan, tapi tidak menyurutkan masyarakat Kota Semarang untuk bersepeda. Bahkan ada juga orang yang suka bersepeda naik turun melintasi bukit dengan medan yang ekstrem,” katanya.

Dia memiliki jargon, punya sepeda itu pasti, dan naik sepeda itu pilihan. Maka Ariyanto selalu menyarankan agar orang punya sepeda. ”Kalau sudah punya sepeda itu pilihan apakah hendak digunakan atau tidak. Banyak cara untuk hidup sehat, salah satunya bersepeda. Lantas kenapa kita enggak membudayakan bersepeda. Apalagi jalan bersepeda sudah dibikinkan oleh pemkot, daripada malah digunakan untuk parkir,” katanya.

Saking cintanya terhadap sepeda, Ariyanto memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan bank pada 2011 silam. Ia kemudian mendirikan usaha bengkel sepeda sekaligus toko sepeda yang diberi nama Bjo’s Pit.

”Saya dulu kerja di bank, kalau secara posisi atau jabatan bisa dibilang lumayan. Mungkin ini namanya Tuhan sudah menentukan jalan. Saya merasa kurang nyaman bekerja di kantor saat itu. Sehingga berinisiatif untuk membuka usaha. Ndilalah kok saya punya hobi sepeda, akhirnya keluar dan nekat bikin bengkel dan toko sepeda. Saat ini sudah tahun kelima,” katanya.

Ia mengaku hobi sepeda sejak 2008. Saat itu masih bekerja kantor di sebuah bank tersebut. ”Memang pengin buka usaha sesuai hobi, kemudian saya buka bengkel sepeda sekaligus toko sepeda di Jalan Bukit Umbul Tembalang. Mikirnya dulu belum banyak bengkel sepeda. Eh, berlanjut sampai sekarang. Tapi sekarang bengkel saya pindah di Jalan Ngesrep Timur dekat Patung Kuda,” katanya.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar