Atasi Kemacetan Kota, Ajak Pekerja Budayakan Naik Sepeda Onthel

Dikatakan, banyak orang yang memiliki sepeda onthel. Tetapi mereka kebanyakan menggunakan sepeda hanya untuk olahraga pagi, terutama weekend. ”Saya pernah bikin survei kecil-kecilan, ada berapa orang yang punya sepeda tapi yang benar-benar bike to work di Kota Semarang. Ternyata hanya kurang lebih 20-30 persen yang Bike to Work di Kota Semarang. Itu pun tidak setiap hari,” katanya.

Di Kota Semarang, kata dia, orang tidak menggunakan sepeda dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya faktor geografis, karena wilayah di Kota Semarang berbukit dan banyak tanjakan. Selain itu juga faktor cuaca panas. Sehingga orang lebih memilih naik motor dan mobil.

”Anak-anak sekolah yang naik sepeda itu hanya sampai di tingkat SMP saja. Begitu menginjak SMA, rata-rata mereka sudah tidak naik sepeda lagi. Karena trennya sudah naik motor,” katanya.

Atas kondisi ini, kata Ariyanto, kalau mau menggerakkan masyarakat untuk menjaga budaya bersepeda, maka perlu dimulai sejak usia dini. ”Orang bersepeda itu pilihan. Sebenarnya sudah punya motor dan punya mobil, tapi ada yang tetap ingin menggunakan sepeda. Itu kategori ber-bike to work karena pilihan,” terangnya.

Tapi ada juga bersepeda karena memang tidak punya pilihan. Misalnya tidak punya alat transportasi lain selain sepeda onthel. Maka dia ke mana-mana akan naik sepeda. ”Tapi kalau orang kategori tidak punya pilihan, maka pada saat dia mendapat rezeki banyak, pasti dia beli motor. Hilanglah semangat untuk berbudaya bersepeda,” ungkapnya.

Ariyanto menginginkan agar generasi muda mampu merawat budaya bersepeda. Generasi yang peduli terhadap lingkungan. ”Meskipun punya motor, kalau kondisi memungkinkan untuk bersepeda ya bersepedalah. Tetapi kalau memang kondisi kantornya jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan sepeda ya naik motor wae lah,” ujarnya sembari bercanda.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar