Belajar dari sang Ayah, Tahun Ini Pesanan Meningkat

Jelang Ramadan, biasanya digelar arak-arakan warak ngendog sebagai puncak tradisi dugderan. Arif Rahman adalah salah satu perajin warak ngendog yang masih bertahan.

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

WARAK ngendog merupakan makhluk rekaan dengan kepala menyerupai kepala naga khas kebudayaan dari etnis Tiongkok, tubuhnya berbentuk layaknya unta khas kebudayaan dari etnis Arab, serta keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas kebudayaan dari etnis Jawa. Ini merupakan simbol akulturasi dari berbagai golongan etnis di Semarang, yakni etnis Tiongkok, Arab dan Jawa.

Biasanya jelang Ramadan, permintaan mainan berbentuk warak ngendog meningkat. Salah satu perajinnya, Arif Rahman, warga Purwodinatan RT 2 RW 2, Semarang Tengah. Di rumah dua lantai yang dihuninya sekarang, Arif dibantu dua pekerja sibuk membuat warak ngendog. Pria 41 tahun itu dengan terampil menempel hiasan kertas minyak warna merah, kuning dan putih di tubuh warak ngendog. Sedangkan dua pekerjanya membantu menggunting kertas minyak sebelum diolesi lem pati dan ditempelkan ke tubuh warak ngendog.

Arif mengaku, sejak beberapa pekan terakhir, sudah membuat warak ngendog hampir 200 buah. Warak ngendog itu pesanan dari sejumlah pihak. Ada tiga ukuran yang sedang dikerjakan, yakni ukuran kecil 20x30x30 cm, ukuran sedang 50x70x100 cm dan ukuran besar menyesuaikan pesanan.

”Sudah ada 200 pesanan dari berbagai macam ukuran, kira-kira sudah sebulan terakhir pesanan ini. Untuk harga bervariasi, mulai yang kecil Rp 50 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung pelanggan mintanya apa. Saya pernah mengerjakan seukuran bak mobil pikap,” kata ayah dua anak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar