Tak Ada Akses Publik, Pasar Tanah Mas Ditinggal

PASAR Tanah Mas yang dulu menjadi pusat perdagangan warga setempat, kini sudah ditinggalkan. Padahal kondisi kios-kios di sana masih prima meski bangunan itu direvitalisasi Pemkot Semarang pada 2000 silam. Tiang penyangga utamanya pun masih tampak kokoh. Hanya ada satu tiang yang bagian bawahnya sedikit rusak.

Pasar tersebut sebenarnya masih tegolong nyaman untuk dihuni. Tapi kenyataannya, dari 54 kios, hanya sekitar 15 pedagang yang masih bertahan. Itu pun kebanyakan anget-angetan berjualan di sana. Yang buka saban hari hanya 5 kios saja. Yaitu dua penjual sayur, satu penjual onde-onde, satu penjual ikan laut, serta satu penjual buah dan sayur.

Salah satu penjual di Pasar Tanah Mas, Mbah Tumi mengaku tidak punya rencana meninggalkan kiosnya. Pasalnya, masih banyak pelanggan yang nyaris setiap hari datang membeli dagangannya. ”Saya nggak mau pindah. Wong sudah punya langganan, kok. Kalau pindah ke tempat lain, malah nggak ada yang beli,” ucap penjual onde-onde ini.

Dia merasa ada kenikmatan tersendiri berjualan di pasar yang sepi penjual. Selain bebas gesekan antar pedagang, dia bisa menempati kios lain yang masih kosong. ”Sebenarnya jatah kios saya di depan sana. Tapi saya pindah di dalam sini karena memang tidak ada yang menempati. Sudah izin sama yang punya kios, kok,” ucapnya.

Baca Juga : Pasar Banyumanik Jadi Tempat Hunian, Pasar Manyaran Tutup

Untuk bisa terus berjualan di sana, setiap hari Mbah Tumi yang menempati kios selebar 4 meter, harus membayar Rp 2.400 sebagai biaya retribusi pasar. Angka itu tidak dianggap memberatkan karena hasil jualannya terbilang lumayan. Apalagi, Mbah Tumi juga tinggal di sana. Setiap malam, nenek yang mengaku berusia 70 tahun ini tidur di musala pasar.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar