Pengusaha Butuh Proses untuk Naik Kelas

Arnaz Agung Andrarasmara adalah sosok yang cukup konsen di bidang organisasi kepemudaan maupun pengusaha.  Di dunia usaha pun, nyaris semua usaha yang pernah dibangunnya bisa disebut sukses. Tapi siapa sangka, Arnaz mengaku tidak pernah sedikit pun bermimpi jadi pengusaha saat masih kecil. Dia justru merasa, menjadi pengusaha itu karena ‘terjebak situasi’.

 

Dulu, Arnaz sebenarnya sudah cukup mapan tinggal di Jakarta. Penghasilanya bisa dibilang cukup untuk hidup sehari-hari. Dia pun sempat punya niat fokus meniti kariernya tersebut dan tinggal di Jakarta. Sayang, sang istri, Andriyani yang bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Semarang menolak diajak ke Jakarta karena masih ingin mengajar di Kota Semarang. “Akhirnya saya yang ngalah, pulang ke Semarang. Waktu itu, saya bingung mau kerja apa,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak kalah akal, pria kelahiran Semarang, 6 Juni 1976 ini mencoba mencari potensi yang dimiliki. Yaitu punya banyak jaringan karena memang masa mudanya hobi mengikuti berbagai organisasi. Dari situ, Arnaz pun memilih untuk menjadi wirausaha. “Jadi ini semacam kecelakaan. Saya memang tidak pernah punya niat untuk menjadi pengusaha,” ucapnya.

Menurutnya, modal awal untuk menjadi pengusaha itu bukan segepok rupiah. Tapi jaringan. Kebetulan, Arnaz punya banyak jaringan yang dibangun dari hobinya berorganisasi. “Modal awal memulai usaha itu kan dari jaringan. Kebetulan sejak SD, saya suka berorganisasi. Dari OSIS, Senat hingga kepramukaan ,” ucapnya.

Pengalaman berorganisasi itu juga mencetak Arnaz dalam mengatasi permasalahan. Dia yang kerap ditunjuk menjadi ketua organisasi, akhirnya menjadi sebuah kawah candradimuka belajar mencari solusi, mengatasi masalah, mengenal karakter orang lain hingga cara membangun dan merawat jaringan. Juga seabrek pengalaman lain yang bisa dimanfaatkan di dunia usaha.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar