Butuh Mata Pelajaran Religiusitas Indonesia

SALATIGA - Berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini, merupakan akibat dari tidak solidnya pendidikan nasional. Selain itu juga disebabkan terlalu kuatnya solidaritas terhadap identitas kesukuan.

Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Prof John A Titaley saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar nasional memperingati Hari Pendidikan Nasional, Rabu (10/5) pagi di Balairung Universitas. Dalam seminar yang mengangkat tema “Keberagaman dalam Pendidikan di Indonesia” ini John menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional yang diselenggarakan tidak membuat anak Indonesia menjadi orang Indonesia dengan identitas Indonesia.

“Bagaimana tidak, sebab utama keadaaan ini adalah dijadikannya mata pelajaran agama, terutama agama-agama dunia seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu menjadi mata pelajaran dan mata kuliah wajib,” tuturnya.

Padahal yang seharusnya diwajibkan, ditegaskan John, adalah mata pelajaran religiusitas Indonesia di mana dapat dimaknai bahwa setiap warga negara Indonesia tidak hanya setara di hadapan hukum Indonesia, tetapi juga setara dan sama di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Masih menurut John, untuk maju sebagai suatu bangsa maka sistem pendidikan nasional haruslah bersumber pada identitas bangsa Indonesia bukan identitas kesukuan.

Pembicara lainnya Ahmad Munjid dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Jogjakarta mengungkapkan, pelajaran agama yang diberikan secara monoreligiusitas bukanlah hal yang cocok dengan keberagaman Indonesia. Munjid menyarankan untuk mengubah model sistem pendidikan dari monoreligiusitas menjadi pengajaran interreligiusitas sehingga keberagaman dapat tercapai.

Budayawan FX Mudji Sutrisno dalam paparannya mengungkapkan bahwa kehidupan di Indonesia adalah maha beragam dan merupakan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, kehidupan yang beragam ini perlu dikembangkan melalui jalan kebudayaan yang memanusiakan manusia. “Berbeda agama namun tetap dalam satu religiusitas, satu keimanan yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa,” imbuhnya. (sas/ton)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar