Tolak Ambil Ganti Rugi di PN

KENDAL - Meski lahannya sudah dieksekusi, warga Desa Wungurejo dan Tejorejo, Kecamatan Ringinarum yang terdampak pembangunan tol Batang-Semarang belum juga mengambil uangnya. Padahal uang ganti rugi sudah ditetapkan melalui proses konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Kendal.

Warga justru bertekad tidak akan mengambil uang ganti rugi, dan akan mencari upaya lain untuk mendapatkan keadilan. Saat ini, masih ada 98 pemilik bidang tanah di dua desa tersebut yang belum sepakat dengan nilai ganti rugi. Rinciannya, 62 bidang di Desa Wungurejo, dan 36 bidang di Desa Tejorejo. Pada proses persidangan di PN Kendal, majelis hakim memutus ganti rugi lahan sebesar Rp 350 ribu per meter persegi. Namun di tingkat kasasi, MA menolak dan mengembalikan ke harga Rp 220 ribu per meter persegi.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, lahan warga kini sudah rata dengan tanah. Enam alat berat yang dikerahkan, yakni empat backhoe digging dan dua backhoe loader telah ”melenyapkan” tanah garapan warga berikut tanaman yang sudah siap dipanen.

Warga di dua desa tersebut hanya bisa pasrah melihat  lahannya mulai  diuruk  tanah. Warga juga dilarang melihat dari dekat, lantaran ketatnya penjagaan oleh aparat kepolisian. Setiap hari, Polres Kendal  tetap  menyiagakan petugas  sebanyak  satu regu atau sekitar 20 personel yang berjaga 24 jam nonstop. Mereka mendirikan tenda tak jauh dari pekerjaan proyek jalan tol.

Syamsudin, warga Desa Wungurejo mengatakan, jika warga tetap  menolak ganti rugi yang diberikan pemerintah sebesar Rp 220 ribu per meter persegi. ”Warga mintanya sesuai dengan putusan PN Kendal, yakni Rp 350  ribu per meter persegi,” katanya, kemarin (11/5).

Diakuinya, jika  pemerintah tidak mau menaikkan ganti rugi, pihaknya dan warga lain tidak akan mengambil uang yang sudah dititipkan di PN Kendal. ”Ini sebagai bentuk protes kami kepada pemerintah yang telah merugikan rakyat kecil. Kami akan mencari upaya lain untuk mendapatkan keadilan,” tuturnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar