Bupati Dorong Pengembangan EBT

DEMAK-Bupati Demak, M Natsir mengaku apresiatif dan antusias dengan perkembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Kabupaten Demak. Terkait beroperasinya 9 titik reaktor biogas yang dikelola langsung oleh masyarakat yang tergabung di Kelompok Tani dan Kelompok Ternak di 6 dari 7 dusun di Desa Sidorejo. 

“Ini bagus sekali. Terobosan kreatif masyarakat harus didukung dan dikembangkan agar tidak kalah dengan yang lain. Selain itu, energi ini selalu dibutuhkan. Maka dari itu, pemanfaatan limbah diharapkan tidak sebatas kotoran sapi saja,” kata Bupati Natsir di sela-sela kunjungannya di Kandang Sapi milik Kelompok Ternak Sido Mulyo, Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Senin (8/5) kemarin.

M Natsir mengatakan bahwa peran masyarakat dan Pemerintah Desa (Pemdes) sangat vital dalam mengembangkan dan melakukan inovasi EBT yang lain. Kendati demikian, perlu komunikasi intensif dengan dinas-dinas terkait agar nantinya lebih banyak masyarakat yang diberdayakan. “Yang terpenting, masyarakat sudah mau mencoba. Itu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.

Dikatakan dia bahwa persoalan infrastruktur di Kabupaten Demak saat ini sudah selesai. Oleh karena itu, dia mendorong agar Pemdes bisa mengalokasikan stimulus kepada masyarakat melalui Alokasi Dana Desa (ADD) disamping pemanfaatan program-program Kementrian Desa (Kemendes) lainnya. “Anggaran harus sudah dibalik, jadi tidak harus infrastruktur saja, tetapi pemberdayaan harus menjadi prioritas,” ungkapnya.

Kepala Desa Sidorejo, Warnoto Utomo, mengatakan bahwa dari 9 titik reaktor biogas yang telah beroperasi turut membantu perekoniman warga. Reaktor tersebut sebagai solusi alternatif di tengah melambungnya harga elpiji dan listrik. “Pengeluaran masyarakat bisa ditekan dan bisa membantu usaha kecil milik masyarakat seperti usaha krupuk. Setidaknya ada 38 KK yang sudah dapat menikmati manfaat biogas ini,” katanya.

Warnoto mengatakan, pengembangan akan terus dilakukan dengan memperbanyak reaktor biogas di beberapa titik. Sebab, saat ini masih ada 55 ekor sapi yang belum terfasilitasi biogas. Tercatat, 110 ekor sapi sudah termanfaatkan di tahun 2016, sedangkan di tahun 2017 baru mencapai 83 ekor sapi. “Pengembangan akan terus diupayakan, agar lebih banyak masyarakat yang terlibat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Subur Makmur, Khaironi mengatakan bahwa meskipun berasal dari kotoran hewan namun kualitas gas yang dihasilkan tak kalah dari elpiji. Tak hanya itu, biogas tersebut dimanfaatkan untuk lampu penerangan (petromak). “Pelanggan hanya dikenakan biaya Rp 15 ribu per bulan jadi lebih ekonomis dan uang tersebut nantinya digunakan untuk perawatan kandang dan biaya operasional,” ujarnya. (mg28/ida)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar