Dua Situs Sejarah Dibiarkan Rusak

UNGARAN–Dua situs bersejarah yaitu Yoni dan Lapik Arca yang ada di Desa Pagersari Kecamatan Bergas dibiarkan rusak dan tidak terurus. Kedua situs tersebut dibiarkan tergeletak di area persawahan warga.

Situs sejarah yang diduga peninggalan masa Kerajaan Mataram kuno tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh warga sejak lama. “Namun warga cenderung pasif terhadap keberadaan benda ini,” ujar warga Pagersari, Ardyanto Rukma, 33, Jumat (5/5) kemarin.

Keduanya persis berada di pematang area persawahan warga. Bahkan salahsatu situs yaitu Lapik Arca sudah banyak yang pecah. Keberadaan situs tersebut hanya disakralkan oleh beberapa orang yang kerap meminta nomor togel pada benda tersebut. “Dulu banyak yang suka kesini nyari nomor (togel) entah berhasil atau tidak, saya tidak tahu. Memang dari pemerintah tidak melakukan perawatan terhadap situs ini,” katanya.

Keberadaan dua situs bersejarah tersebut semakin menambah daftar panjang persebaran situs di Kabupaten Semarang. Setelah akhir April 2017 lalu, juga ditemukan situ bersejarah berbentuk Yoni di Kecamatan Bawen. Yoni merupakan lambang sebuah kesuburan atau perwujudan dari salah satu istri Dewa Siwa yakni Dewi Uma. “Warga sini memandang benda ini biasa saja, karena memang tidak tahu pasti ini apa,” ujarnya.

Sedangkan Lapik Arca merupakan sebuah landasan tempat bersemayamnya sebuah arca atau patung yang disucikan dengan ukuran 80 x 70 sentimeter. Melihat hal itu, Komunitas Pecinta Sejarah Kabupaten Semarang berharap agar Pemkab setempat segera mengakomodasi keberadaan situs-situs bersejarah tersebut.

Koordinator Komunitas Pecinta Sejarah Kabupaten Semarang, Eka Budi yang juga melihat langsung situs tersebut mengatakan jika usia dari keduanya belum bisa dipastikan. “Meski belum bisa memastikan berapa usia dan asal situs ini, diperkirakan benda bersejarah tersebut merupakan peninggalan masa Kerajaan Kalingga dan Medang Kamulan pada masa Mataram Kuno,” katanya.

Dimana kedua kerajaan besar tersebut pernah berkuasa di tanah Jawa sekitar abad 8 Masehi. Ia berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan situs-situs peninggalan sejarah agar tidak rusak dan punah. “Apalagi sampai diperjualbelikan oleh para kolektor benda antik,” ujarnya. (ewb/ida)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar