Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (3-Habis)

Dari sekitar 95 juta penduduk Turki, 15 juta di antaranya tinggal di Istanbul. Sebanyak 95 persen penduduk Turki beragama Islam. Meski beberapa kali didera teror dan pemerintahannya sempat dikudeta, pariwisata Turki seakan tak pernah mati.

RICKY FITRIYANTO

SAAT berkunjung ke Istanbul, saya beberapa kali bertemu dengan rombongan wisatawan asal Indonesia. Sebagian besar adalah jamaah umrah yang mengambil paket plus Turki. Negara tersebut memang cocok dijadikan destinasi tambahan usai ibadah umrah. Selain letaknya relatif dekat dari Tanah Suci, penduduk yang mayoritas Islam membuat Turki dijadikan tujuan wisata halal. Setidaknya para pelancong tidak kesulitan menemukan tempat ibadah dan makanan halal.

Hari terakhir di Turki kami gunakan hanya untuk berkunjung ke Grand Bazaar. Waktu tak banyak, sebab siangnya kami harus langsung menuju bandara untuk terbang meninggalkan Istanbul, transit di Abu Dhabi, kemudian pulang ke Tanah Air.

Grand Bazaar tak hanya menawarkan sensasi berbelanja. Pasar kuno ini kaya sejarah karena dibangun oleh Sultan Mehmet II pada 1455 setelah penaklukkan Konstantinopel. Pada abad ke-17, Grand Bazaar menjadi pasar terbesar di Eropa. Banyak referensi menyebutkan tempat ini merupakan mal pertama di dunia.

Grand Bazaar yang dalam bahasa Turki disebut Kapali Carsi ini terdiri atas 3.000 toko dan dikunjungi 250-400 ribu orang per hari. Berada di dalamnya seperti masuk ke dalam labirin. Lorongnya bercabang-cabang dan bisa membuat tersesat. Saya berusaha menghafal pintu masuk dan keluar lagi di pintu yang sama agar tak kesasar.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar