Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (1)

Istanbul, kota terbesar di Turki sejak dulu memiliki daya tarik yang kuat. Di masa lalu, posisinya yang strategis di antara benua Asia dan Eropa menjadi rebutan untuk dikuasai. Kota ini pernah menjadi ibukota empat kekaisaran. Hingga kini, daya pikat Istanbul tak hilang. Peninggalan sejarah dinasti yang pernah berkuasa merupakan kekuatan utama pariwisata.

RICKY FITRIYANTO

USAI menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci bersama Ar-Bani Tour and Travel 19-27 Maret lalu, saya dan beberapa jamaah melanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Dari 31 jamaah yang diberangkatkan biro umrah yang berkantor di Jalan Pamularsih Raya 104 Semarang itu, 8 di antaranya lanjut ke Turki, dan 4 jamaah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Selebihnya para jamaah pulang ke Tanah Air.

Suhu 7 derajat celcius menyambut kami saat tiba di Ataturk International Airport, Istanbul. Persis seperti yang tertera pada aplikasi pengukur suhu di smartphone. Saya sempat membukanya di Prince Mohammed bin Abdulaziz International Airport, Madinah. Perjalanan Madinah-Istanbul menempuh waktu 4 jam.

Meski memasuki musim semi dan salju sudah mencair, cuaca tetap dingin. Jaket tebal yang sudah disiapkan pun buru-buru dipakai. Di bandara, Ibrahim, guide lokal berbahasa Indonesia menjemput. Pria yang akrab disapa Baim tersebut lantas mengajak kami naik ke minibus Mercy Sprinter untuk menuju kota.

Sambil tersenyum melihat kami yang menggigil kedinginan, dia menjelaskan cuaca hari itu memang cukup dingin karena sinar matahari tak muncul. Tapi itu belum seberapa. ”Jika kalian datang pada Januari lalu, Istanbul diguyur hujan salju selama 20 hari. Suhu udara mencapai minus 20 derajat celcius,” kata guide berwajah bule ini.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar