Pemerintah Tak Serius Lestarikan Seni Tari

Geliat tari tradisional terus dihimpit arus modernitas. Eksistensinya makin meredup ditelan gemerlapnya budaya asing yang masuk tanpa penyaring. Bagaimana nasibnya kini?

SANGGAR Tari Greget, Sobokarti, Lindu Panan, Yasa Budaya, Antika Budaya, UKM Kesenian Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kariesta, Sekar Kedaton, dan Andika Budaya terbilang masih aktif. Meski catatan Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ada sekitar 30 nama sanggar.

Nasib kesenian tari boleh dibilang ironis dan tragis. Di satu sisi, pemerintah menggembar-gemborkan agar seluruh masyarakat nguri-uri budaya Jawa, tapi di sisi lain, justru menelantarkannya. Pemerintah dinilai kurang serius dalam memberikan wadah bagi sanggar tari untuk unjuk taji.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priambodo membeberkan bahwa pemerintah kurang mengapresiasi kensenian. Pemerintah tidak menyediakan sarana prasarana atau ruang pertunjukan khusus bagi para seniman tari yang ingin tampil.

“Di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh) memang gratis, tapi tetap harus keluar uang pribadi. Seperti membayar kebersihan, beli solar untuk menghidupkan listrik, dan kebutuhan lainnya,” terangnya.

Jika memang tidak bisa memberikan tempat pertunjukan, dia berharap pemerintah bisa membuat wadah bagi sanggar-sanggar tari untuk tampil. Seperti membuat jadwal atau agenda pentas secara rutin. Entah bulanan, tiga bulanan, atau minimal tahunan. Tidak perlu memberi honor bagi para penari. Mereka bisa mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tiket.

1
2
3
4
5

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar