Perlu Dibuat Cluster dan  Melibatkan Masyarakat

KOTA Lama bagi Kepala Kantor Pertanahan Nasional  Kota Semarang, Sriyono adalah bagian dari sejarah hidupnya. Sebab, dia lahir dan menghabiskan masa kecil di Purwodinatan, Kelurahan Semarang Tengah, tak jauh dari kota tua peninggalan Kolonial Belanda tersebut. Dia  biasa bermain di kawasan Kota Lama, sebelum akhirnya pindah ke Ngaliyan hingga saat ini.

”Waktu kecil saya suka bermain di Jalan Kepodang, Bank Bumi Daya, Bank Niaga, dan di Jalan Sendowo. Jadi, saya tahu betul daerah saya. Itu banyak gentho, kampung nakal lah. Alhamdulillah, saya tidak termasuk, buktinya bisa jadi seperti sekarang,” ucap kata Sriyono penuh semangat ketika FGD Kota Lama yang digelar Jawa Pos Radar Semarang.

Karena memiliki history khusus dengan Kota Lama, sehingga dirinya sangat tertarik dan senang ketika diajak membahas tentang kemajuan Kota Lama. ”Bahkan, dari dulu saya menunggu gregetnya terkait pengembangan Kota Lama ini,” cetus mantan Kepala BPN Solo yang baru sebulan pindah ke Kantor Pertanahan Nasional Kota Semarang ini.

Sriyono mengaku merasa terpanggil untuk menggeliatkan Kota Lama. Ia melihat Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang masih belum banyak melibatkan masyarakat setempat dalam upaya menghidupkan Kota Lama. ”Di masyarakat belum tampak gregetnya. Sehingga perlu diajak untuk nyengkuyung pengembangan Kota Lama sebagai pusat budaya. Bahkan, kalau perlu masyarakat sekitar diberdayakan untuk turut menjaga kebersihan wilayah Kota Lama. Ini sangat penting,” tandas pria yang telah 21 tahun mengembara ke berbagai kota, dan sekarang bermukim di Ngaliyan ini.

Jika ada event, menurutnya, perlu sosialisasi hingga ke tingkat kampung. Masyarakat perlu dilibatkan. ”Selama ini, kalau ada event, kurang komunikatif dengan masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat setempat merasa yang terjadi di Kota Lama milik warga kawasan elite,” tuturnya menyayangkan.

Padahal jika memberdayakan masyarakat serta para remaja atau Karangtaruna setempat, akan ada rasa memiliki, handarbeni terhadap Kota Lama. Itu juga menjadi bagian sosialiasi dan promosi strategis dalam menghidupkan Kota Lama. Selain itu, perlu membentuk komunitas peduli kebersihan. ”Orang Semarang, inginnya digatekke atau diuwongke (diperhatikan dan dimanusiakan),” tandasnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar