Perpustakaan Jalanan Sebarkan Virus Membaca

KEMAJUAN teknologi telah menjadikan anak-anak muda bahkan anak kecil, mulai melupakan dunia membaca buku. Hampir setiap waktu, lebih disibukkan dengan memegang gadget untuk sekedar gaya-gayaan atau ingin eksis di media sosial (medsos). Hal itu diperparah dengan banyaknya anak-anak di bawah umur yang hidup di jalanan demi mengais rupiah. Sebagian dari mereka, jelas tidak bersekolah dan tidak bisa membaca dan menulis.

Fenomena tersebut membuat beberapa mahasiswa di Semarang prihatin dan tergeraklah membuat perpustakaan jalanan. Sebuah wadah untuk menyebarkan virus membaca kepada generasi muda di ibukota Jawa Tengah. “Terus terang membuat hati kami trenyuh, karena budaya membaca buku mulai luntur,” kata salah satu pegiat Perpusatakaan Jalanan Semarang, Mohammad Dirgantara Indonesia, kemarin.

Mahasiswa Untag ini bersama rekan-rekannya Dimas Prasetyo (Unisbank), Adam Tuwawan (USM), Rizki Adi, Ferdian Reza (Udinus), Nusantara (USM), Rizki Wardana (Untag) lantas berinisiatif membuat perpustakaan jalanan. Terlebih saat itu, di tahun 2015 mereka menemukan tumpukan buku di kontrakan yang merupakan base camp yang menjadi tempat tinggal sehari-hari. Mereka pun bagaikan menemukan berlian berharga yang lama tersimpan. Tetapi kegalauan kemudian muncul, bahkan sempat bingung, berlian itu mau buat apa? “Ya, akhirnya kami sepakat membuat perpusatakaan jalanan. Agar buku-buku itu bisa terus memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Tepatnya Januari 2016, Perpustakaan Jalanan Semarang mulai aktif menjalankan kegiatan. Semua dilakukan dengan hati yang tulus tanpa ada tendensi apapun. Dengan semangat tanpa pamrih, para pemuda tersebut terus mengumpulkan buku. Mulai dari buku pribadi sampai mencari donatur untuk menambah koleksi buku yang sekarang sudah ada ratusan lebih jumlahnya. Koleksinya cukup beragam mulai dari komik, buku pelajaran, pendidikan, pengetahuan, biografi, sastra, novel dan lainnya. Selain itu, juga membuat PIN yang dijual minimal Rp 10 ribu dan semua uang masuk untuk membeli buku dan menambah koleksi perpusatakaan jalanan. Perpustakaan Jalanan Semarang juga kerap membeli peralatan menulis yang disumbangkan kepada panti asuhan di Kota Semarang. “Semua jenis buku ada. Karena spirit awal kami ingin menyebarkan virus membaca buku untuk semua kalangan,” ungkapnya.

Dengan semangat tinggi, perpustakaan jalanan ikut mendekatkan diri kepada masyarakat. Salah satu agenda rutin adalah menggelar buku di area Taman Pandanaran Semarang setiap Jumat sekitar pukul 18.00 hingga pukul 23.00. Selain itu, di acara car free day (CFD) kawasan Jalan Pahlawan Simpanglima. Banyak kisah menarik ketika sekelompok mahasiswa ini mencoba mengedukasi dan membangkitkan budaya membaca masyarakat. “Karena out door, ya terkadang kerepotan ketika cuaca tidak bersahabat. Bahkan, untuk menuju lokasi, tidak bisa sendiri. Karena kami harus mengangkut semua buku koleksi dengan sepeda motor,” akunya.

Di tengah kehidupan era teknologi seperti sekarang diakuinya memang tidak mudah mengampanyekan virus membaca kepada generasi muda. Saat pertama kegiatan di CFD, banyak masyarakat yang menganggapnya berjualan buku. Tetapi mereka tidak menyerah dan terus berkomitmen mengajak masyarakat gemar membaca buku. “Ada orang yang datang dan membaca buku kami, itu sesuatu hal yang sangat memuaskan. Meski memang tidak semua yang datang membaca,” tambah Dimas Prasetyo.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar