Sehari,  Cetak  Upal  Rp 20 Juta

SEMARANG - Sindikat pengedar dan pencetak uang palsu (upal) berhasil digulung aparat Polrestabes Semarang. Mereka beranggotakan 4 orang yang melakukan pencetakan upal di sebuah rumah kontrakan di Karangroto, Genuk. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari mereka mampu mencetak upal hingga Rp 20 juta menggunakan alat cetak sablon.

Keempat tersangka adalah Wiharto, 50, dan Bahri, 38, keduanya warga Mranggen, Demak. Dua tersangka ini berperan sebagai pencetak upal. Tersangka lainnya, Bernard Ronaldo Ramuri, 31, warga Jalan Sapta Marga IV, Krapyak, Semarang Barat, dan Elfi Suryani, 40, warga Tingkir, Salatiga. Dua tersangka ini merupakan pasangan kekasih yang berperan sebagai pengedar upal.

Mereka ditangkap di tempat terpisah dalam waktu yang berbeda. Tersangka Bernard dan Elfi dicokok petugas saat hendak mengedarkan upal di Pasar Bulu, Semarang Barat, Minggu (16/4) sekitar pukul 10.00 lalu.

Hasil pengembangan keduanya, polisi berhasil menangkap tersangka Wiharto dan Bahri saat keduanya sedang mencetak upal di sebuah rumah kontrakan di daerah Karangroto, Genuk, Senin (17/4) sekitar pukul 13.00.


Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, menjelaskan, saat ditangkap di Pasar Bulu, dari tangan tersangka Bernard dan Elfi disita  12 lembar upal pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu baru. Saat diperiksa polisi, keduanya mengaku sebagai kurir yang bertugas membelanjakan upal tersebut. Keduanya sengaja berbelanja di toko-toko kecil, dengan nilai di bawah Rp 50 ribu. Harapannya, setiap belanja, mereka mendapatkan kembalian uang asli.

”Saat kami interogasi, keduanya mengaku upal tersebut dibuat oleh rekannya yang mengontrak rumah di daerah Karangroto, Genuk. Tanpa membuang waktu, jajaran saya langsung melakukan penggerebekan di rumah tersebut hingga berhasil meringkus tersangka Wiharto dan Bahri yang sedang mencetak uang palsu,” bebernya.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar