Menengok Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia

Salah satu orangtua penderita, Eka Puspita Sari, 21, warga Brebes, mengaku tinggal di rumah tersebut demi anak tercinta, Muhammad Fatan Al Haidad, berumur 2,5 tahun, agar segera sembuh dari penyakitnya.

"Kami tinggal di rumah singgah ini sejak Juni 2016," kata Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengaku, sudah tinggal sebelum rumah singgah tersebut diresmikan pada September 2016. Dia ditemani suaminya berusaha keras untuk memperjuangkan anaknya agar bisa sembuh. "Awalnya, kami ngekos, setiap kali memeriksakan anak di RSUP dr Kariadi.  Kami sempat putus asa karena tidak memiliki biaya untuk membayar uang kos dan bolak-balik Semarang - Brebes," ujarnya.

Beruntung, saat melakukan pemeriksaan anak di RSUP dr Kariadi, ia disarankan oleh salah seorang perawat untuk mendatangi rumah singgah tersebut. "Saat itu, rumah singgah ini belum diresmikan," katanya.

Dia memenuhi saran dari perawat. Dia bersama suami akhirnya memutuskan untuk menitipkan anaknya, Fatan, di Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia itu. Bahkan suaminya yang semula harus bolak-balik karena memiliki pekerjaan di Brebes, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar kerja dan mencari pekerjaan di Kota Semarang.  "Sampai sekarang saya bersama suami tinggal di rumah singgah ini," ungkapnya.

Mengenai penyakit Fatan, lanjut Eka, diketahui mengidap Leukimia sejak usia 14 bulan. Awalnya diketahui adanya pembengkakan di leher dan di bagian perut. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata Fatan divonis Leukimia. "Kanker darah ini secara medis disebabkan karena jumlah sel darah putih sangat banyak dalam aliran darah dan sumsum tulang, maka sel-sel darah lainnya terganggu proses pembuatannya," katanya.

Akibatnya, sel-sel darah putih dan sel darah lainnya tidak mampu berfungsi sebagaimana seharusnya. Orang-orang dengan leukemia anemia dan rentan terhadap memar, pendarahan, dan infeksi.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar