Usi Tantowi, Mantan Model yang Sukses Menjadi Konsultan Properti

“Aku itu ibarat sopir angkot, kemana-mana nyetir sendiri, makanya aku terapkan kalau mau hidup enak, harus tanggung sendiri dan pikul sendiri. Aku juga selalu berpesan kepada anak, nanti jangan terlalu mengantungkan suami, melainkan harus berjuang bersama,”katanya.

Usitan mengakui, selama bekerja di properti pernah mengalami masa down. Sebab, ia sempat banyak menerima cacian dan cibiran-cibiran begitu closing penjualan. Ia juga kerap diajak menikah oleh para konsumen yang ditemuinya. Namun ia selalu menjadikan semua itu sebagai motivasi, karena menurutnya semakin banyak dicibir dan semakin banyak dijatuhkan, maka ia justru selalu ingat masih memiliki anak yang harus diperjuangkan. Ia juga merasa senang begitu perusahaannya dipimpin Cik Fang-Fang perlahan mulai nyaman dan membaik.

“Jadi, kalau sedang capek, down, saya selalu ingat anak, bagaimanapun dengan tanganku sendiri, saya bisa akan angkat segalanya untuk memperhatikan dan membesarkannya,”ujarnya.

Menurutnya, untuk menjadi seorang marketing, khususnya di bisnis properti, cantik saja tidak menjamin bisa berhasil. Karena ada seorang cacat mental juga sukses. Semua itu membutuhkan kerja keras, jangan angkuh dan egois, serta selalu melayani apa yang konsumen minta dan diinginkan. Hanya saja, tetap dalam batas-batas normal dan wajar.

“Biasanya orang yang cocok di marketing jiwanya yang penuh inspiratif dan suka tantangan. Kalau monoton, susah jadi marketing. Kalau saya memang selalu gali pengalaman dan belajar dari pengalaman,”tandasnya.

Usitan mengaku saat kali pertama menjadi marketing, baru satu tahun bekerja sudah bisa kredit rumah. Kemudian dua bulan baru bisa closing. Sekarang dua minggu saja sudah bisa closing. Adapun sejumlah keberhasilan yang diraihnya di bisnis properti, seperti menjual apartemen hingga 25 unit di Candi Land, rumah sebanyak 10 unit, ruko 2 unit, ‎sewa apartemen 8 unit, sewa rumah di Graha Padma 2 unit, dan masih banyak lagi.

Penjualan rumah dengan nilai fantastis juga pernah dialami konsultan properti kelahiran Sleman, 3 Desember 1983 ini. Ia mengaku pernah menjual rumah dengan harga paling murah Rp 200 juta di Perumahan Villa Aster, Srondol Kulon, Banyumanik. Sedangkan paling tinggi pernah menjual tanah di daerah Pringapus, Kabupaten Semarang hingga Rp 30 miliar dengan waktu hanya sekitar 6 bulan. Dari setiap penjualan properti itu, tentu saja Usitan mendapatkan bonus yang tidak kecil.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar